Bayar Pajak

SO THE STORY GOES LIKE THIS. Pada suatu siang, dalam antrian panjang, kursi – kursi tunggu, orang – orang berbicara tanpa tanda koma, di salah satu sudut kantor KPP Pratama di kawasan Bandung Selatan. Karena iseng jadi terdampar di tautan ini: Besok, Pemerintah Lelang 6 Surat Utang Rp 30 Triliun

Tautan lawas, 2 bulanan yang lalu, tapi konteks-nya masih valid di bulan maret ini sepertinya. Tentang pajak.

Ini cuma analisis imajiner pribadi saja. Dan entah dimana saya pernah membacanya (atau mendengarnya). Ketika suatu negara mengeluarkan surat hutang dengan tenor 10 tahun, 15 tahun, atau bahkan 30 tahun. Maka yang akan membayar (melalui pajak) adalah orang awam yang belum mengerti hutang negara itu apa. Terlebih dengan tenor yang panjang, ini akan menjadi beban orang – orang yang pada saat hutang itu dibuat mereka masih dalam bentuk “titit”. Bisa dibayangkan kesimpulannya?

Dan ya tentu saja ini bukan pertama kalinya. Maksudnya, saya sudah pernah sampai pada kesimpulan serupa untuk kasus yang berbeda. Tapi inti dari kesimpulannya itu sebenarnya tetap sama: Mereka yang mencari nafkah, bertarung secara fisik dan psikis, ia “tersiksa”, ia “terluka”, terkadang hampir mati (walaupun iya dapat berdiri kembali). Dan ujung – ujungnya harus ikut bayarin setumpuk utang yang tak pernah ia mengerti bahkan ketahui. Toewewew.

Thank You. Mrs Enid Blyton


PINTU RAHASIA, menjelajah setiap sudut rumah, mengetuk dan menggeser – geser lemari, bersemangat melihat pantai (atau kolam ikan, hahahahha), berharap bisa keliling dunia persis petualangan lima sekawan. Back in 90’s. Thank you, Mrs Enid Blyton