Haru

Katanya, salah satu rasa yang sudah mulai terlupakan (atau tersisihkan) dari peradaban manusia modern adalah rasa haru. Si Pram wanna be bilang rasa haru berbeda dengan rasa sedih, sedih bisa dimanipulasi – dengan sinetron yang overdramatic, atau reality show yang dibangun dengan segala macam bentuk kemiskinan, penderitaan, etc-etc.

Tapi rasa haru? Oh tidak. Rasa ini muncul sendiri dan dengan caranya sendiri, ada yang datang mengendap – endap, ada yang datang dengan cara menyergap. Singkatnya haru adalah warisan mahal peradaban manusia ‘kuno’, pemberian gratis dari Tuhan (Allah, Maha Pemilik Perasaan), salahsatu anugerah yang sering terlupakan.

***

Sudah 2 hari ini,  secara marathon stalking Line-nya Gita. Liat – liat statusnya, dan lalu disergap rasa haru.

Si Pram wanna be benar. Rasa haru tidak bisa ditolak pun diundang, seperti sebuah kebenaran yang disembunyikan, di kubur, ia akan mencari jalan keluarnya sendiri, stalking status adalah salah satu caranya. 

Saya screen shot salah satu statusnya, lalu attach di instagram;


“So proud of her, but Im struggling with how fast time is moving. Just watching her reads Toto – Chan story, now she’s quoted one of Joko Pinurbo’s poetry

Pointless post. just feel dramatic a bit. hehehe”

Funny.

I love being a Dad for my little Ratu Dansa. (Fyi: Doi jago banget maen game Pump It Up – Dance Pad.  Jadi saya panggil doi Ratu Dansa, merujuk kepada lagu jadulnya Abba, Dancing Queen. Yep, “Dancing Queen, feel the beat from tambourine, she can dance, she can jive,….”)

And, knowing that’s she wont always be a “Little Ratu Dansa”… ?

Just…Arrrggghhhh *sigh

Normalisasi Jam Hidup

Setelah (-/+) 1 Bulan terakhir disibukan dengan pendataan ini – itu, linieritas etc – etc.

Akhirnya kembali ke siklus hidup manusia (normal), atau setidaknya sedang dalam perjalanan menuju ke titik itu. Walaupun masih tetap dalam mode siaga, kalo – kalo ada panggilan dadakan dan semacamnya, tapi at least waktunya sekarang lagi agak banyak, jadi cukup buat normalisasi jam hidup.

Lain dari itu. Seneng liat gestur – gestur gembira di wajahnya bapak – ibu guru hari ini, terlepas dari konotasi lain dari kata ‘ingat’, kali ini saya sepaham dengan apa yang dikatakan wali – wali, dan ustad -ustad, dan tetua – tetua, dan motivato – motivator, dan para icon perubahan, baik itu yang tersurat di manuskrip kuno ataupun yang muncul secara pop-ups di iklan youtube. Bahwa menjadi jalan hadirnya kebahagian itu menyenangkan.

Kotomi dan Sherlock Holmes

Kalo mau di-list pelajaran hidup pasca bolakbalik Pangalengan – Baleendah – Kantor DInas Blablabla dan membaca Sherlock Holmes.

 1. Otak manusia pada awalnya adalah loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan plihanmu. Orang bodoh akan mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah – tengah atau tercampur dengan hal – hal lain. Orang bijak sebaliknya, dengan hati – hati ia memilih apa yang dimasukkan ke dalam loteng-otaknya. Ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantu dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak.

Tapi Tata Surya? protesku. Kalaupun bumi bergerak mengitari bulan, itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku, jawab Sherlock Holmes

2. Sepertinya negara kita tercinta ini masih ada di level Negara Kotomi, atau setidaknya, semoga, itu hanya ada di koloni ini, semua kepentingan, entah itu yang menyangkut hajat hidup satu orang, atau yang menyangkut hajat hidup banyak orang. Akan Ter-(atau ‘di’, silahkan pilih katakerja yang paling pas) Kotomi oleh sentimen – sentimen pribadi. Setan!

Currently – Reading

Sherlock Holmes
Koleksi Kasus 1
Sir Arthur Conan Doyle