Warkop


PADA 2015, saat pertama kali kembali ke tanah kelahiran di lereng pegunungan di Pangalengan, dimana ribuan wisatawan datang setiap tahunnya. Saya langsung mencari satu tempat enak untuk menyelesaikan bermacam – macam urusan: Warkop, warung kopi.

Dititik tertentu. Ruangan dipenuhi dengan biji kafein, musik legendaris, gelas hampir kosong, asbak yang sudah terlalu penuh, buat saya sepertinya ‘mereka’ semua sedang berbicara: Kamu bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan, tapi hidup tidak pernah menunda urusan – urusannya.

Tetapi di warung kopi juga seringkali, saya bisa berhenti dan merefleksi diri: Apakah benar kamu sudah berubah? Apakah kamu telah yakin dengan, atau terhadap sesuatu? Atau kamu ter-yakin-kan hanya karena sesuatu itu telah dilabeli “baik” oleh keadaan? Oleh para ‘kritikus’? Apakah kamu berani bertanggung jawab atas penilaianmu itu? Apakah kamu tidak sedang terkungkung oleh dunia yang sekarang hampir semuanya berbicara tentang “Image”?

Baru – baru ini saya sering membawa serta Paria-nya Mulk Raj Anand ke warung kopi. Jika ada buku yang ingin dibaca oleh seseorang yang sedang mencari cara agar lebih pandai bersyukur. Mungkin inilah salah satu buku itu.

Paria – Mulk Raj Anand

“Dia terlihat sebagai anak paria tulen dari koloni yang tidak memiliki parit, lampu ataupun air; Anak dari rawa di mana orang – orang bermukim di antara kakus – kakus orang kota dan ditengah – tengah tahi mereka sendiri, yang berserakan di sana, di sini, di mana – mana. Anak dari sebuah dunia dimana siang adalah gelap, dan malam adalah gelap yang pekat.”

Membaca Bakha, melihat – lihat produk budaya lain: Malam ini adalah malam yang pas untuk mulai bersyukur, untuk mulai bertepuk tangan kepada diri sendiri atas segala pencapaian, dan juga untuk tersesat dan melantur. Hehehe

Oh ya btw. Ini udah diujung longweekend, janjinya kemarin mau membabat habis pe-er kerjaan biar bisa fokus dan nyaman ngerjain urusan yang lain. Harus cepet – cepet back on track nih.

*kamu sekali lagi benar Pi, walaupun hoream, jangan pernah suudzon sama Alloh. Hehehe. Selalu Alhamdulillah tiada henti ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *