Level of Compromise

Membuka topik kemarahan, itu tidak bisa tidak untuk menaikan level kompromi-nya. Mencoba nyablak kesana – kesini, tapi itu sepertinya kurang bagus, kurang elegan, jauh dari cantik. Walaupun harus diakui, itu memang peredam yang terbaik yang bisa didapat ketika semuanya berjalan tanpa kendali.

(Gosh, I hope I only marah-marah gag dijelas di YM-nya, dan tidak berlanjut di media lainnya yang mudah dilihat oleh publik. Harga diri bo, harga diri.)

However. Ada pelajaran-pelajaran kemanusia-an dari kejadian kemarin sebenernya, masih belum matang (toh, masih berupa pertanyaan-pertanyaan yang hanya dijawab oleh sendiri). Maksudnya, seperti bermain papan scrable yang sudah tertanam dikepala, dan huruf – huruf yang muncul adalah semua yang pernah kita lihat dan rasakan. Dan huruf yang kita susun itu, berada diantara valid dan tidak valid.

Lalu tiba-tiba, ada seseorang yang menyodorkan susunan kata – kata ini. Memberikan banyak pilihan.

Tired. Freaky. And. Felt. Unable. With. All. We. Want. To. Is. Human. But. How. We. React. With. All. Those. Things. Are. Reflected. Who (or ‘What’ gitu yah?) . We. Are. Adalah diantaranya.

Ya meski semua huruf itu dikasihkannya agak telat, tapi setidaknya cukup bisa menguatkan hatinya untuk bisa berdamai dengan keadaan.

Dengan seperti ini, level kompromi-nya bisa…Ditinggi-tinggikan lah.

Semoga tetap tinggi, dan semakin tinggi.

Ps. Terimakasih banyak  kepada seseorang yang udah bilang; “Kok bisa se-cemen itu? Ya dah, jadi eluh, sedihnya jangan lama-lama, nanti mati lho”

Funny. Good night 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *