Kembali Ke Bisnis (Dengan Lebih Canggih)

SAYA TIDAK PERNAH benar – benar menjadi penggemar bahasa pemograman (walaupun pada faktanya, saya tidak pernah benar – benar menjadi penggemar akan apapun dalam 3 tahun terakhir ini).

Mungkin karena bahasanya yang terlalu mewah, sementara kepala saya terlalu ringkih. Tapi jika itu bersinggungan dengan variable “waktu”, atau nyerempet – nyerempet, walaupun tipis, dengan standar deviasi dan turunannya: mean-modus-median. Akan saya coba sampai berbusa.

Potongan kecil ini mungkin akan menjadi awal, dan mungkin saya akan sering berhubungan dengannya nanti:

//case PERIOD_M1:
periode = 1440;
return;

//case PERIOD_M5:
periode = 288;
return;

Variabel diatas adalah variable standar deviasi yang menggunakan waktu sebagai acuan utama (case PERIOD_M1) dan (case PERIOD_M5). Kudet? Memang. Potongan ini saya ambil dari salah satu forum fx yang berbasis di Indonesia, yang mana ini dibuat tahun 2010, kurang atau lebih. Alamak, where I have been. :\

Sebelumnya saya hanya menggunakan cara konvensional, yakni menarik garis lurus di timeframe tertentu untuk mendapatkan area equilibirium, area kesetimbangan.

Dan waktu terus berjalan, dunia semakin tua, saya jugak. Hehehhe. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kata Pepatah Jerman mah.

Kabar Baru dan Lain – Lain.

TIDAK BANYAK ORANG, yang mampu berlama-lama berada di lokasi tempat pembuangan sampah, di hutan yang belum terjamah, atau di pulau – pulau terpencil tak berpenghuni.

Tapi selalu ada bentuk kehidupan dan juga harapan di tempat-tempat yang ditinggalkan; ada yang bisa hidup dan menemukan ‘madu’ di tempat kotor di pembuangan sampah, suku sakai terlatih berjalan jauh ke dalam hutan belantara hanya untuk menemukan kayu bosi, Richard Byrd terobsesi dengan antartika, ia berhasil memetakan ratusan pincak hingga ribuan gletser di pulau tak berpenghuni. Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay, keduanya malah menantang bahaya, mendaki puncak Everest di tahun 1953, saat dimana alat pendakian masih seadanya. Tidak semua yang ditinggalkan berarti kenestapaan.

Nah itulah mungkin, kurang atau lebih, analogi jawaban pas ngobrol bareng  Tuan Hiu Biru minggu lalu. Yang mana ia ngoceh tentang gagasan how to he dealing with life dan bagimana dapat feedback yang bagus  di kantor. Naif, idealis, dan mirip jurnal national geographic setengah tahun lalu, yang entah kenapa masih nyangkut saja di kepala sampai hari ini: Kabar Dari Langit, Tantangan Baru Menuju Bulan. Tidak heran teman – teman lainnya menyebutnya dengan sebutan “Hiu Penggerutu”.

Terlepas Tuan Hiu Biru menerima semua jawaban itu dengan nyengir. Kali ini mengutip dari ucapan karakter Gwen di Ghost Town: “We just get the one life, you know. Just one. You can’t live someone else’s or think it’s more important just because it’s more dramatic. What happens matters. May be only to us, but it matters”. Tidak ada tagihan kartu kredit, tidur nyaman, makan bareng teman – teman, itu saja sudah cukup. Terkadang tidak bersinggungan langsung dengan orang yang selalu ingin mengganjal perutnya dengan roti atau anggur itu mungkin adalah anugerah dengan caranya sendiri. Tentang kisah roman yang masih stagnan di “proses melulu”, hey, jodohkan di tangan Tuhan kan ya, jalan kehidupan mungkin akan membuat isi kepala seseorang menjadi kasar atau keras atau dingin, tapi jika urusannya dengan cinta, pasti ko, akan berubah menjadi lembut, hangat dan melankoli hahahahhaha.

Sedangkan untuk di tempat kerja. Menginjak 3 tahun dan masih menikmatinya. Lot of laught and happiness, sedikit berbeda dari tempat yang dulu, eh, banyak malah, disini momen – momennya lebih banyak dan kompleks, kebiasaan – kebiasaan, interaksi sesama dan lainnya, sebagian ada yang penting dan sebagian lagi tidak, tapi semuanya terlalu ajaib untuk tidak dijadikan pelajaran.

Dan yak, 3 Tahun ini saya banyak belajar, salah satunya:  Daun telinga, hal “kecil” pemberian Tuhan, adalah sesuatu yang sangat menakjubkan sekaligus aneh, unik, dan sangat acak. Yang mulai saya perhatikan secara serius fungsi detailnya dari setiap kepala orang – orang. Hahahahaha

Ah. We just get the one life. You can’t live someone else’s kan yah…hihihihi

 

Btw, ini post pertama. Blog lama untuk bacaan pribadi. Maap masih ada laman yang kosong, link tautan masih belum dibikin, posting juga belum banyak. *piss

Haru

Katanya, salah satu rasa yang sudah mulai terlupakan (atau tersisihkan) dari peradaban manusia modern adalah rasa haru. Si Pram wanna be bilang rasa haru berbeda dengan rasa sedih, sedih bisa dimanipulasi – dengan sinetron yang overdramatic, atau reality show yang dibangun dengan segala macam bentuk kemiskinan, penderitaan, etc-etc.

Tapi rasa haru? Oh tidak. Rasa ini muncul sendiri dan dengan caranya sendiri, ada yang datang mengendap – endap, ada yang datang dengan cara menyergap. Singkatnya haru adalah warisan mahal peradaban manusia ‘kuno’, pemberian gratis dari Tuhan (Allah, Maha Pemilik Perasaan), salahsatu anugerah yang sering terlupakan.

***

Sudah 2 hari ini,  secara marathon stalking Line-nya Gita. Liat – liat statusnya, dan lalu disergap rasa haru.

Si Pram wanna be benar. Rasa haru tidak bisa ditolak pun diundang, seperti sebuah kebenaran yang disembunyikan, di kubur, ia akan mencari jalan keluarnya sendiri, stalking status adalah salah satu caranya. 

Saya screen shot salah satu statusnya, lalu attach di instagram;


“So proud of her, but Im struggling with how fast time is moving. Just watching her reads Toto – Chan story, now she’s quoted one of Joko Pinurbo’s poetry

Pointless post. just feel dramatic a bit. hehehe”

Funny.

I love being a Dad for my little Ratu Dansa. (Fyi: Doi jago banget maen game Pump It Up – Dance Pad.  Jadi saya panggil doi Ratu Dansa, merujuk kepada lagu jadulnya Abba, Dancing Queen. Yep, “Dancing Queen, feel the beat from tambourine, she can dance, she can jive,….”)

And, knowing that’s she wont always be a “Little Ratu Dansa”… ?

Just…Arrrggghhhh *sigh

Normalisasi Jam Hidup

Setelah (-/+) 1 Bulan terakhir disibukan dengan pendataan ini – itu, linieritas etc – etc.

Akhirnya kembali ke siklus hidup manusia (normal), atau setidaknya sedang dalam perjalanan menuju ke titik itu. Walaupun masih tetap dalam mode siaga, kalo – kalo ada panggilan dadakan dan semacamnya, tapi at least waktunya sekarang lagi agak banyak, jadi cukup buat normalisasi jam hidup.

Lain dari itu. Seneng liat gestur – gestur gembira di wajahnya bapak – ibu guru hari ini, terlepas dari konotasi lain dari kata ‘ingat’, kali ini saya sepaham dengan apa yang dikatakan wali – wali, dan ustad -ustad, dan tetua – tetua, dan motivato – motivator, dan para icon perubahan, baik itu yang tersurat di manuskrip kuno ataupun yang muncul secara pop-ups di iklan youtube. Bahwa menjadi jalan hadirnya kebahagian itu menyenangkan.

Kotomi dan Sherlock Holmes

Kalo mau di-list pelajaran hidup pasca bolakbalik Pangalengan – Baleendah – Kantor DInas Blablabla dan membaca Sherlock Holmes.

 1. Otak manusia pada awalnya adalah loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan plihanmu. Orang bodoh akan mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit ditengah – tengah atau tercampur dengan hal – hal lain. Orang bijak sebaliknya, dengan hati – hati ia memilih apa yang dimasukkan ke dalam loteng-otaknya. Ia tidak akan memasukkan apapun kecuali peralatan yang akan membantu dalam melakukan pekerjaannya, sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak.

Tapi Tata Surya? protesku. Kalaupun bumi bergerak mengitari bulan, itu tidak akan mempengaruhi pekerjaanku, jawab Sherlock Holmes

2. Sepertinya negara kita tercinta ini masih ada di level Negara Kotomi, atau setidaknya, semoga, itu hanya ada di koloni ini, semua kepentingan, entah itu yang menyangkut hajat hidup satu orang, atau yang menyangkut hajat hidup banyak orang. Akan Ter-(atau ‘di’, silahkan pilih katakerja yang paling pas) Kotomi oleh sentimen – sentimen pribadi. Setan!

Currently – Reading

Sherlock Holmes
Koleksi Kasus 1
Sir Arthur Conan Doyle