Paranoid

INI SALAH SATU NASEHAT BAGUS, dan ya, gratis, dari seorang (mantan) teman tersayang, menjelang akhir hubungan platonik kami. Ini sedikit kutipannya kalo mau di catet “never digging your own graves”.

Tidak ada emosi apapun yang muncul di permukaan saat sesuatu itu benar – benar terjadi. Hanya cetak tebal kata – kata terakhir yang bisa kami tangkap. Situasi yang sulit, atau dangkal, atau tragis, bisa kami cerna dengan sederhana.

Lain lagi jika datang percakapan lain dari luar yang kami beri kesempatan untuk bernafas, dengannya kami bisa berkumpul ngopi bareng Garbage, Sound Garden, Smashing Pumpkins atau Alanis Morissette.

You wait and see when the smoke clears

You live you learn, you love you learn
You cry you learn, you lose you learn
You bleed you learn, you scream you learn

Tapi apapun itu intinya dengan modal yang minim, kami masih bisa gagah-gagahan, semuanya bisa jadikan bahan belajar bagi diri kami masing – masing. Bisa berpikir jernih. Dari mulai angin sepoy, sampai dengan badai itu benar – benar datang kepala kami selalu berada dalam kondisi dingin dan kosong, kosong dari prasangka buruk dan teori – teori konspirasi lainnya.

Dan sekarang, mulai terbangun bahwa kita,….Mmmmhhh kita? Ok ralat, saya, tidak bisa selalu dealing dengan banyak hal. Dealing dalam artian memastikan semuanya terkendali dengan baik. Hantu masa lalu, terjaga di tengah malam, isu- isu?

OK dan, sepertinya harus mengutip ini. We all lose somebody we care about and want to find some comforting way of dealing with it, something that will give us a little closure, a little peace. – Mitch Albon

Pfiuhh. Hah ko jadi paranoid gini yak?

Milan Kalah

KADANG KALA, kepala rasanya bisa berat hanya karena alasanya yang sepele, malah lebih sepele daripada masalah upil nyelip di bawah meja. Milan kalah atas Arsenal di Europa League adalah salah satu contohnya.

Untuk sebagian besar orang, kekalahan adalah hal yang biasa, apalagi dalam sepakbola, tapi tidak dengan kami, para supporter garis keras ini. Disaat tim kesayangannya kalah, (entah itu sebagian atau seluruh dari ) dirinya pun ikut kalah.

Huks

Kembali Ke Bisnis (Dengan Lebih Canggih)

SAYA TIDAK PERNAH benar – benar menjadi penggemar bahasa pemograman (walaupun pada faktanya, saya tidak pernah benar – benar menjadi penggemar akan apapun dalam 3 tahun terakhir ini).

Mungkin karena bahasanya yang terlalu mewah, sementara kepala saya terlalu ringkih. Tapi jika itu bersinggungan dengan variable “waktu”, atau nyerempet – nyerempet, walaupun tipis, dengan standar deviasi dan turunannya: mean-modus-median. Akan saya coba sampai berbusa.

Potongan kecil ini mungkin akan menjadi awal, dan mungkin saya akan sering berhubungan dengannya nanti:

//case PERIOD_M1:
periode = 1440;
return;

//case PERIOD_M5:
periode = 288;
return;

Variabel diatas adalah variable standar deviasi yang menggunakan waktu sebagai acuan utama (case PERIOD_M1) dan (case PERIOD_M5). Kudet? Memang. Potongan ini saya ambil dari salah satu forum fx yang berbasis di Indonesia, yang mana ini dibuat tahun 2010, kurang atau lebih. Alamak, where I have been. :\

Sebelumnya saya hanya menggunakan cara konvensional, yakni menarik garis lurus di timeframe tertentu untuk mendapatkan area equilibirium, area kesetimbangan.

Dan waktu terus berjalan, dunia semakin tua, saya jugak. Hehehhe. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kata Pepatah Jerman mah.

Kabar Baru dan Lain – Lain.

TIDAK BANYAK ORANG, yang mampu berlama-lama berada di lokasi tempat pembuangan sampah, di hutan yang belum terjamah, atau di pulau – pulau terpencil tak berpenghuni.

Tapi selalu ada bentuk kehidupan dan juga harapan di tempat-tempat yang ditinggalkan; ada yang bisa hidup dan menemukan ‘madu’ di tempat kotor di pembuangan sampah, suku sakai terlatih berjalan jauh ke dalam hutan belantara hanya untuk menemukan kayu bosi, Richard Byrd terobsesi dengan antartika, ia berhasil memetakan ratusan pincak hingga ribuan gletser di pulau tak berpenghuni. Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay, keduanya malah menantang bahaya, mendaki puncak Everest di tahun 1953, saat dimana alat pendakian masih seadanya. Tidak semua yang ditinggalkan berarti kenestapaan.

Nah itulah mungkin, kurang atau lebih, analogi jawaban pas ngobrol bareng  Tuan Hiu Biru minggu lalu. Yang mana ia ngoceh tentang gagasan how to he dealing with life dan bagimana dapat feedback yang bagus  di kantor. Naif, idealis, dan mirip jurnal national geographic setengah tahun lalu, yang entah kenapa masih nyangkut saja di kepala sampai hari ini: Kabar Dari Langit, Tantangan Baru Menuju Bulan. Tidak heran teman – teman lainnya menyebutnya dengan sebutan “Hiu Penggerutu”.

Terlepas Tuan Hiu Biru menerima semua jawaban itu dengan nyengir. Kali ini mengutip dari ucapan karakter Gwen di Ghost Town: “We just get the one life, you know. Just one. You can’t live someone else’s or think it’s more important just because it’s more dramatic. What happens matters. May be only to us, but it matters”. Tidak ada tagihan kartu kredit, tidur nyaman, makan bareng teman – teman, itu saja sudah cukup. Terkadang tidak bersinggungan langsung dengan orang yang selalu ingin mengganjal perutnya dengan roti atau anggur itu mungkin adalah anugerah dengan caranya sendiri. Tentang kisah roman yang masih stagnan di “proses melulu”, hey, jodohkan di tangan Tuhan kan ya, jalan kehidupan mungkin akan membuat isi kepala seseorang menjadi kasar atau keras atau dingin, tapi jika urusannya dengan cinta, pasti ko, akan berubah menjadi lembut, hangat dan melankoli hahahahhaha.

Sedangkan untuk di tempat kerja. Menginjak 3 tahun dan masih menikmatinya. Lot of laught and happiness, sedikit berbeda dari tempat yang dulu, eh, banyak malah, disini momen – momennya lebih banyak dan kompleks, kebiasaan – kebiasaan, interaksi sesama dan lainnya, sebagian ada yang penting dan sebagian lagi tidak, tapi semuanya terlalu ajaib untuk tidak dijadikan pelajaran.

Dan yak, 3 Tahun ini saya banyak belajar, salah satunya:  Daun telinga, hal “kecil” pemberian Tuhan, adalah sesuatu yang sangat menakjubkan sekaligus aneh, unik, dan sangat acak. Yang mulai saya perhatikan secara serius fungsi detailnya dari setiap kepala orang – orang. Hahahahaha

Ah. We just get the one life. You can’t live someone else’s kan yah…hihihihi

 

Btw, ini post pertama. Blog lama untuk bacaan pribadi. Maap masih ada laman yang kosong, link tautan masih belum dibikin, posting juga belum banyak. *piss