Paranoid

INI SALAH SATU NASEHAT BAGUS, dan ya, gratis, dari seorang (mantan) teman tersayang, menjelang akhir hubungan platonik kami. Ini sedikit kutipannya kalo mau di catet “never digging your own graves”.

Tidak ada emosi apapun yang muncul di permukaan saat sesuatu itu benar – benar terjadi. Hanya cetak tebal kata – kata terakhir yang bisa kami tangkap. Situasi yang sulit, atau dangkal, atau tragis, bisa kami cerna dengan sederhana.

Lain lagi jika datang percakapan lain dari luar yang kami beri kesempatan untuk bernafas, dengannya kami bisa berkumpul ngopi bareng Garbage, Sound Garden, Smashing Pumpkins atau Alanis Morissette.

You wait and see when the smoke clears

You live you learn, you love you learn
You cry you learn, you lose you learn
You bleed you learn, you scream you learn

Tapi apapun itu intinya dengan modal yang minim, kami masih bisa gagah-gagahan, semuanya bisa jadikan bahan belajar bagi diri kami masing – masing. Bisa berpikir jernih. Dari mulai angin sepoy, sampai dengan badai itu benar – benar datang kepala kami selalu berada dalam kondisi dingin dan kosong, kosong dari prasangka buruk dan teori – teori konspirasi lainnya.

Dan sekarang, mulai terbangun bahwa kita,….Mmmmhhh kita? Ok ralat, saya, tidak bisa selalu dealing dengan banyak hal. Dealing dalam artian memastikan semuanya terkendali dengan baik. Hantu masa lalu, terjaga di tengah malam, isu- isu?

OK dan, sepertinya harus mengutip ini. We all lose somebody we care about and want to find some comforting way of dealing with it, something that will give us a little closure, a little peace. – Mitch Albon

Pfiuhh. Hah ko jadi paranoid gini yak?

Menjadi Murakami

Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan?…

– Haruki Murakami, Hear The Wind Sing.

Milan Kalah

KADANG KALA, kepala rasanya bisa berat hanya karena alasanya yang sepele, malah lebih sepele daripada masalah upil nyelip di bawah meja. Milan kalah atas Arsenal di Europa League adalah salah satu contohnya.

Untuk sebagian besar orang, kekalahan adalah hal yang biasa, apalagi dalam sepakbola, tapi tidak dengan kami, para supporter garis keras ini. Disaat tim kesayangannya kalah, (entah itu sebagian atau seluruh dari ) dirinya pun ikut kalah.

Huks

Kembali Ke Bisnis (Dengan Lebih Canggih)

SAYA TIDAK PERNAH benar – benar menjadi penggemar bahasa pemograman (walaupun pada faktanya, saya tidak pernah benar – benar menjadi penggemar akan apapun dalam 3 tahun terakhir ini).

Mungkin karena bahasanya yang terlalu mewah, sementara kepala saya terlalu ringkih. Tapi jika itu bersinggungan dengan variable “waktu”, atau nyerempet – nyerempet, walaupun tipis, dengan standar deviasi dan turunannya: mean-modus-median. Akan saya coba sampai berbusa.

Potongan kecil ini mungkin akan menjadi awal, dan mungkin saya akan sering berhubungan dengannya nanti:

//case PERIOD_M1:
periode = 1440;
return;

//case PERIOD_M5:
periode = 288;
return;

Variabel diatas adalah variable standar deviasi yang menggunakan waktu sebagai acuan utama (case PERIOD_M1) dan (case PERIOD_M5). Kudet? Memang. Potongan ini saya ambil dari salah satu forum fx yang berbasis di Indonesia, yang mana ini dibuat tahun 2010, kurang atau lebih. Alamak, where I have been. :\

Sebelumnya saya hanya menggunakan cara konvensional, yakni menarik garis lurus di timeframe tertentu untuk mendapatkan area equilibirium, area kesetimbangan.

Dan waktu terus berjalan, dunia semakin tua, saya jugak. Hehehhe. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kata Pepatah Jerman mah.