Mario Persib

“Saya punya pengalaman 40 tahun di sepakbola tapi it’s oke. Kami tidak bisa melawan situasi ini, dan manajemen seolah tidak berbuat apapun, jadi kami seolah sendirian”. Beber Pelatih Persib, Roberto Carlos Mario Gomes, pasca kekalahan dari PSM Makasar Rabu 24 Oktober 2018 lalu.

Manajemen … damang?

Jangan selalu salahkan manajemen, kita semua harus berpikir positif dan haqqulyaqin bahwa manajeman masih berada di belakang tim dan pelatih. Semenjak kejadian di GBLA, pasca meninggalnya Haringga suporter Persija. Grafik permainan Persib memang menukik. Sisi psikologis para pemain yang kena, hasilnya permainan dilapangan, walaupun tidak terlalu di bawah performa, tetapi, rasa-rasanya, kok jadi kayak apes bin sial melulu. Bete!

Ah. Memang bener, Football is more than a games, dan Persib is more than club.

Menulis

TERLEPAS DARI iuran tahunan yang sudah terlanjur dibayarkan . Menulis di blog ini sekarang rasa-rasanya semakin berat, alasannya klise: sangat sibuk (fakta di lapangannya adalah terlalu odob mengatur waktu). Padahal banyak sesuatu di kepala yang ingin dikeluarkan. Takut tercecer lalu akhirnya terlupakan.

Kambinghitamkan-lah Instagram dan whatsapp dengan feature photo caption dan atau update status-nya. Merekalah biang dari semuanya.

Kemajuan teknologi internet dan segala macam turunannya (aplikasi etc-etc), selain memudahkankan, ternyata juba bisa men-distorsi kreatifitas kita sendiri, halah…bahasanya itu…Distorsi? hehehe

Warkop


PADA 2015, saat pertama kali kembali ke tanah kelahiran di lereng pegunungan di Pangalengan, dimana ribuan wisatawan datang setiap tahunnya. Saya langsung mencari satu tempat enak untuk menyelesaikan bermacam – macam urusan: Warkop, warung kopi.

Dititik tertentu. Ruangan dipenuhi dengan biji kafein, musik legendaris, gelas hampir kosong, asbak yang sudah terlalu penuh, buat saya sepertinya ‘mereka’ semua sedang berbicara: Kamu bisa menunda untuk berubah karena banyaknya urusan, tapi hidup tidak pernah menunda urusan – urusannya.

Tetapi di warung kopi juga seringkali, saya bisa berhenti dan merefleksi diri: Apakah benar kamu sudah berubah? Apakah kamu telah yakin dengan, atau terhadap sesuatu? Atau kamu ter-yakin-kan hanya karena sesuatu itu telah dilabeli “baik” oleh keadaan? Oleh para ‘kritikus’? Apakah kamu berani bertanggung jawab atas penilaianmu itu? Apakah kamu tidak sedang terkungkung oleh dunia yang sekarang hampir semuanya berbicara tentang “Image”?

Baru – baru ini saya sering membawa serta Paria-nya Mulk Raj Anand ke warung kopi. Jika ada buku yang ingin dibaca oleh seseorang yang sedang mencari cara agar lebih pandai bersyukur. Mungkin inilah salah satu buku itu.

Paria – Mulk Raj Anand

“Dia terlihat sebagai anak paria tulen dari koloni yang tidak memiliki parit, lampu ataupun air; Anak dari rawa di mana orang – orang bermukim di antara kakus – kakus orang kota dan ditengah – tengah tahi mereka sendiri, yang berserakan di sana, di sini, di mana – mana. Anak dari sebuah dunia dimana siang adalah gelap, dan malam adalah gelap yang pekat.”

Membaca Bakha, melihat – lihat produk budaya lain: Malam ini adalah malam yang pas untuk mulai bersyukur, untuk mulai bertepuk tangan kepada diri sendiri atas segala pencapaian, dan juga untuk tersesat dan melantur. Hehehe

Oh ya btw. Ini udah diujung longweekend, janjinya kemarin mau membabat habis pe-er kerjaan biar bisa fokus dan nyaman ngerjain urusan yang lain. Harus cepet – cepet back on track nih.

*kamu sekali lagi benar Pi, walaupun hoream, jangan pernah suudzon sama Alloh. Hehehe. Selalu Alhamdulillah tiada henti ya..

Lebaran

SIAPAPUN TAHU: Malam lebaran adalah malam kemenangan, saat takbir dikumandangkan dimana – mana, berbagai salam dan ucapan mengalir deras tak terkira. Malam kemenangan yang tak boleh dilewatkan.

Dan jika memang ada sesuatu yang dinamakan “resolusi lebaran”. Lebaran kali ini resolusinya tetep sama seperti lebaran tahun kemaren, dan tahun kemarennya lagi: Pengen menjadi orang yang pandai bersyukur, menjadi orang yang pandai bersyukur saja sudah cukup, sekarang udah ga pengan yang lain lagi.

Setelah Isya tadi sempet lihat keluar jendela, ada ponakan – ponakan nyebrang jalan, berlarian ke mesjid sambil mengumandangkan takbir. Ko rasanya sedih yak…Kayak ada sesuatu yang masih menganga di hati, tapi ndak tahu di hati yang sebelah mana. Man, I’m very mature for my age, but also have erronous in lot of ways. Dan salah satunya dalam hal “syukur’ ini. Huks

Nb: Semoga kamu nanti bisa menutupi celah ini ya Pi. Hehehe

Menjadi Murakami

Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu khawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi sedikit lebih tangguh. Sekadar pura-pura pun tidak apa. Betul kan?… – Haruki Murakami, Hear The Wind Sing.