Acep: Sayang Diri, Manjakan Diri

ENAM hari yang luar biasa.

Dimulai hari senin nonton 50 First Date yang entah untuk keberapa kalinya. Lalu dilanjutkan dengan Transformer 4: Age Of Extinction, semoga saja benar cara menulisnya.

Ouija dan Anabelle di hari berikutnya. Rabu marathon 2 film sekaligus. Street Fighter TV series dan Fight Club . Kamis dan Jum’at. Guardian Of The Galaxy dan Hercules 2014. Lalu Sabtu keliling – keliling cari buku di Bandung Book Centre (BCC), dua tempat sekaligus. BCC yang di PHH mustofa sama yang di Palasari, Bandung.

Saya lupa kapan terakhir kali punya aktivitas ‘padat karya’ seperti ini. 3-4 tahun lalu? Pas Transformer untuk pertama kalinya diangkat ke layar lebar? Atau pas tayang perdana Valentine’s Days? Tau kan. Itu yang Aston Kutcher, Jessica Alba, Anne Hathaway, Jennifer Garner, Queen Latifah sama Jamie Foxx adu akting di satu layar dan ternyata biasa – biasa saja cuy.

Hmmmm…

Tahun berapapun itu, yang jelas itu adalah tahun dimana di tahun itu saya sangat tahu bagaimana cara untuk membaca diri, atau tepatnya, melihat diri sendiri, mengukur, bercermin. Tahun dimana saya tidak peduli dengan persepsi yang akan (atau telah) di bangun di sekitar tapi tetap peduli pada perbaikan. Sangat tahu kapan harus berhenti dan tahu benar kapan waktu untuk memulai.

Lalu kesempitan mulai datang, jangankan untuk bercermin dan berbaur, untuk memaafkan diri sendiri saja saya lupa dari titik mana saya harus mulai memaafkan.

Diluar semua film – film itu. Menarik melihat ide memanjakan diri ini. Ternyata ide untuk ‘memanjakan diri’ itu bisa menolong kepalanya untuk lebih fokus, membangkitkan kembali mimpi yang hampir mati, dan juga bisa membantu menegakan kembali tongkat – tongkat optimisme.

Memanjakan diri itu sangat kaya dan inspiratif dan segar. Canggih.


« Previous Post |