September Baru

September dimulai dengan semangat ‘Baru’-nya Tulus.

Dimulai dari pas menuju workshop-nya temen, pas pulang, pas balik lagi karena ada barang yang ketinggalan, dan lalu balik badan sekali lagi dengan seabreg barang bawaan. Diputar bolak – balik tanpa jeda.

Ini reff-nya, lengkapnya cari sendiri

“Nikmatilah kejutanku/ Ini aku yang baru/ Nikmatilah rasa rindu/ Tak lagi di kuasamu”

Ada sedikit rasa diingatkan, waktu dalam perjalanan, pas duduk di kursi paling depan di angkot kemarin itu. Waktu hujan rintik – rintik, lalu rintik – rintiknya semakin banyak, lalu tiba – tiba berubah jadi lebat.

Dari banyak pemintaan sama Tuhan, gak pernah minta sekalipun sesuatu yang berbau “aku yang baru”. Kalo misalnya mau ditarik garis secara besar – besar, permintaanya itu hanya disekitar peningkatan financial yang signikan, dan atau, sebuah kisah baru yang biru? Gak pernah menyinggung sesuatu yang bersifat ke-aku-an, personality, sifat dasar, sesuatu yang dialokasikan lebih kedalam diri sendiri bukan what will other sees, menjadi orang yang pandai bersyukur, atau pengen jadi orang yang punya kesabaran tingkat dewa contohnya, atau apalah kualitas yang tidak kasatmata lainnya.

Ini pelajaran lain, atau setidak ini mungkin sedikit dari pelajaran lain. Yang harap – harapnya, bisa bikin banyak ketakutan dan banyak kecemasan itu hilang, atau mandeglah minimal kalo emang gak bias langsung hilang.

Anyway inget kan, tentang bagaimana saya jatuh dan susah untuk berdiri kembali itu, dan berbagai jenis wejangan – wejangan yang masuk dari telinga kiri dan entah mengapa keluar lagi dari kanan dengan hitungan sepersekian detik? Rasanya saya mulai menemukan mempunyai jawaban yang valid untuk itu.