Lebaran

Lebaran. 1 Syawal. Adalah awal dari bulan kemenangan.

Dan ‘kemenangan’ di lebaran itu hanya indah dalah konteks culture – sosio – religi – romantics saja sepertinya. Atau hanya ada dalam sejarah panjang kekasih Alloh, Muhammad SAW beserta sahabat – sahabatnya, yang pernah saya dengar atau baca.

Kalau diterapkan dalam kontek hidupnya sekarang ini, ‘kemenangan’ itu kok jadi hari penuh dengan pengharapan – pengharapan yang tinggi yah?

(Dan kalo mau liat rekam jejak lebaran – lebaran sebelumnya, hari dengan pengharapan – pengharapan tinggi  itu, akhirnya jadi hari tidak lebih dari sekedar rutinitas, tiap tahun itu – itu aja, lurus – lurus aja yah?).

Lalu sore – sore, sambil nunggu Maghrib datang, bolak – balik dengerin ‘Cinta Rasul’-nya Sulis.

Jadi inget wejangan – wejangan seorang teman dulu (yang sudah banyak sekali dibicarakan disini), tentang menjadi manusia “Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran lo, lo harusnya bersyukur, titik terendah lo udah terlewati, tetep berdo’a aja dan selalu yakin, jangan lupa senyum, cepet atau lambat lo bakal dapetin kemenangan lo sendiri”

Lebaran tahun ini hatinya sih belum bilang ada ‘kemenangan’. Semoga aja masih dikasih kesempatan buat lebaran selanjutnya, pengen berakhir seperti di lagunya Sulis itu;

 “Bila ‘waktuku datang’, hasratku di jalan-Mu, Jalan yang selalu terang, …”

Ayah

Ini berita di hari ke 10, waktu negeri di pesisir laut mediteriania ini dilempari bunga – bunga api secara bertubi – tubi. Menjelang akhir membacanya jadi berkaca – kaca, kaget, merinding. Artinya itu saya sedang membaca sesuatu yang menyedihkan sekaligus mengerikan. 

Children die playing football, in taxi with grandma. As Israel bombs Gaza Tenth days.

‘On Wednesday afternoon, in an horrific attack witnessed by international journalists stationed at the Al-Deira Hotel, shelling from an Israeli gunboat killed four children from a single family as they played football on a beach near Gaza’s seaport.’

‘The four victims were Ahed Atef Baker and Zakaria Ahed Bakr, both ten years old, Muhammad Ramiz Bakr, eleven, and Ismail Muhammad Bakr, aged nine.’

‘Three other children were wounded, one critically.’

(Palestinian child wounded in an Israeli strike cries while receiving medical care at a hospital in Khan Younis, southern Gaza Strip, on 16 July. – via EI )

“Moutaz Bakr, 1 of the boys who survived #Israeli shelling, was shaking w a broken army, blood shot eyes, says he saw 3 of his friends killed”

 – Ayman Mohyeldin. (@AymanM) NBC Journalist. 16 Juli 2014

Mungkin bener. Mimpi, pada satu derajat tertentu, kadang dapat memaksa seseorang untuk mengangkat senjata. Walaupun mungkin ia gak pernah suka atau bahkan gak pernah bisa untuk mengangkat senjata, tapi ketika sampai pada suatu masa harus mengangkat senjata, (saya yakin) dia gak akan pernah menurunkannya sampai titik darah penghabisan.

Anyhow. Untuk seorang Ayah yang telah banyak menceritakan manis – pahit hidup kepada anaknya, akan tiba waktu bagi mereka; untuk menepuk pundak anak – anaknya, melafalkan do’a – do’a kebaikan, mewanti – wanti akan nama baik keluarga yang harus dijaga, dan lalu melambaikan tangan di depan pintu – melepas kepergian anaknya untuk meraih mimpi di luar sana. Untuk pergi dari rumah dan mencicipi apa itu manis dan pahitnya yang sudah diceritakan, sendirian.

Seorang Ayah juga harus siap. Menerima kabar kemungkinan yang terbaik dan yang terburuk dari anaknya yang sedang berjuang itu. I knew it. Di luar kepala malah.

 “He was my only son,” Zakaria’s father, Ahed Baker, told NBC. “He died with his cousins, they all died together.”

“We live by the coast. There was a headline on the news that four children were injured … so we went looking for the kids and we could not find them, so we came here to the hospital to look for them and we found them all, including my son … oh my God,” Baker told NBC.

Tapi gak pernah kebayang gimana hancurnya hati seorang ayah, ketika melepas anaknya hanya untuk bermain, menunggu di rumah, berharap si anak akan membawakannya senyuman – khas seorang anak selepas bermain -.

Tapi kemudian, harus menjemputnya, dengan keadaannya tubuhnya sudah terbujur kaku tertembus peluru?

(Brother, Father and Mother of Ismail Muhammad Bakr.
-Devastated family remembers cheerful boy cut down by Israeli fire on Gaza beach, 19 Juli 2014)

“This newly-built house will not see Ismail grow up”

Updated Stories:

“Gaza’s future on hold as families wait out Israel’s bombing”, 17 Juli 2014
“The boy who clung to the paramedic: the story behind the photo”, 20 Juli 2014
“Massacre in Shujaiya: Dozens killed as Israel shells eastern Gaza City – photos”, 20 Juli 2014
“Children are the majority of those injured” in Shujaiya massacre, says doctor, 20 Juli 2014
“Days 9-11 of Israeli aggression on Gaza: Entrapment”, Omar Ghraeib, 21 Juli 2014
“Gaza’s children, most likely to be killed, live in state of ,shock and horror'”, 22 Juli 2014
“PHOTOS: A Gaza funeral for 26 members of one family”, 22 Juli 2014
“VIDEO: Four minutes of terror in Shuja’iyah”, 23 Juli 2014

(Four Minutes of Terror in Shuja’iyah)  
(…The clip is four minutes long and conveys with raw, immediate intensity the terror of running through streets under bombardment, clutching children and bundles of belonging as ordnance lands with deafening crashes and booms, creating huge dust clouds that make it almost impossible to see. One explosion follows another, while the adult men and women yell in a panic and pray while the children scream for their mother. Source – 972Mag, 23 Juli 2014)

—————————————————————————————
Donasi Palestina:

Sahabat Al Aqsha Yayasan 
Bank Syariah Mandiri No. Rek 7799800009 an. Sahabat Al Aqsha Yayasan

MER-C 
BNI SYARIAH, 08.111.929.73
BCA, 686.0153678
BSM, 700.1352.061
BRI, 033.501.0007.60308
BMI, 301.00521.15
Mandiri, 124.0008111925 An. Medical Emergency Rescue Committee

Don’t Know Why

Ini lagu lama dari Norah Jones.

Bukan jenis lagu yang bisa membuka banyak cerita. Dengerin ini karena ada @MonitaTahalea yang nyanyiin ‘Don’t Know Why’ pas lagi di acara Ini Talkshow-nya Net TV kemaren malem.

I waited ’til I saw the sun
I don’t know why I didn’t come
I left you by the house of fun
I don’t know why I didn’t come
I don’t know why I didn’t come …

Ruangan penuh asap rokok adalah lanskap malam yang berkabut. Meja dengan 4 kursi adalah mimbar dari para ksatria meja bundar. Para sales promotion girl adalah peri – peri negeri dongeng yang sengaja turun ke bumi. Orang – orang berbicara seperti senapan mesin.

Gak banyak lagu yang bisa mengingatkan kepalanya pada suasana magis seperti itu.

Sedikit “Don’t Know Why” untuk hidup.

(Norah Jones – Dont Know Why.  From the Album Came Away Me. 2002.
Blue Notes Records.)

The Whisper Of The Neightbour

Terjemahan bebasnya “bisik – bisik tetangga”.

Sebetulnya ini masih belum yakin apa bisikan ini datang dari tetangga, atau datang dari yang lain. Takutnya kayak kemaren, dapet bisikan gak jelas hanya gara – gara malemnya nonton Katnis Everdeen di ‘The Hunger Games – Catching Fire’.

Bisikan itu sayup – sayup terdengar; Berhenti selangkah, untuk maju berpuluh – puluh langkah. Atau, kurang lebih seperti itulah.

Ini sih mungkin topik lama dan agak basi.

Tapi kenapa coba setiap musim mudik dateng jadi banyak banget tenda – tenda ‘coffee break’ disana – sini.? Itu karena orang butuh selamet saat pulang ke rumah, gak cuma pulang nama.

Salah satu cara agar selamet itu adalah dengan berhenti dulu sebentar, apalagi buat perjalanan yang panjang, orang butuh berhenti untuk meregangkan otot – otot, membetulkan tali sepatu, merapikan safety belt, menghirup udara segara, atau mungkin hanya untuk mendinginkan pantat. Lalu setelahnya bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih seger dan sampe di tujuan dengan sehat wal’afiat.

So do I. I need a break. Just a little break.