Manusia-manusia Fitzgerald

Kapan yah itu, hari dimana malamnya misuh – misuh sama Tuhan, lalu setelahnya bisa tertidur dengan pulas dan pas bangun siang – siang gak merasa berdosa sama sekali?

Mmmmmhhhhh… Pas harus pindah dari satu awkward romantic emotions ke awkward romantics emotions yang lain?

Atau pas siangnya harus menerima kenyataan bahwa mukanya ‘dilempari’ lumpur sama manusia – manusia Fitzgerald? Ituloh, manusia – manusia yang mengedepankan status pribadi dan strata kelompok diatas segalanya. Trah langsung dari para nabi, yang dengan karenanya mereka bisa menempelkan label ‘ahli surga – ahli neraka’ di kening setiap orang.

Kemaren malem baru liat acara talkshow, kebetulan membahas tentang psikologi yang rusak, pembicaranya bilang; Manusia merek apapun, akan terganggu jika mengalami satu dari dua kondisi ini; 1. Kehilangan 2. Penolakan. Dan akan lebih berat jika mengalami keduanya.

Nah, pas denger itu, sepertinya yang terakhir bisa dijadikan alasan kenapa malam itu bisa begitu marah sama Tuhan dan setelahnya bisa tidur nyenyak sampe kesiangan.

Entah kenapa harus menuliskan ini disini, toh kegiatan blogging – mencatat – menulis – merekam jejak, atau apapun namanya. Itu saya gunakan sebagai cermin, untuk berpikir, belajar, dan memetakan isi kepala. Memetakan dalam artian, dalam sebuah catatan, (harapannya) saya bisa melihat diri saya sendiri dengan jujur, bahwa isi kepala saya pernah sampai di titik serendah atau setinggi, bahwa cara berpikir saya pernah seluas atau sedangkal, untuk melihat lagi, kalo – kalo ada sesuatu yang sangat salah di otak saya di masa lalu, atau barangkali ada ledakan emosi yang efek cukup besar gara – gara hal yang sangat sepele, etc-etc semacam itulah. Tapi tidak untuk menyerang orang lain.

Dan malam itu mungkin bisa jadi salah satu titik rendah saya dalam hidup.

Tidak – tidak – tidak. Saya tidak menyimpan marah kepada manusia – manusia itu. Semua manusia (baik fitzgerald maupun bukan) berhak mendapatkan kesenangannya dan kebahagiannya masing – masing, saya akan dan selalu menghormati kebahagian setiap orang, terlepas hal itu dicapai dengan cara yang baik atau buruk, dengan cara yang ringan atau dengan cara yang mengerikan, itu bukan urusan, karena katanya memang, ada hal – hal yang tidak membutuhkan sebuah jawaban ataupun alasan.

Mungkin saya menuliskan ini disini, sebagai pengingat, bahwa saya tidak perlu takut lagi dengan manusia – manusia semacam itu, dan mulai untuk sering bertepuk tangan kepada diri sendiri, bersyukur atas semua pencapaiannya selama ini.

Lemah Lesu

Sistem perputaran roda waktu sepertinya lagi tidak baik. Masa, waktu transisi +/- 3 tahun masih nggak cukup? Cara berpikir kepalanya masih belum bisa menyesuaikan antara saat masih kerja dulu waktu jadi pegawai, sama kerjaan sendiri sekarang ini. Kayaknya ada sesuatu yang terlewat, tapi entah dimana.

Orang – orang disekitar, seangkatan maupun yang senior dalam bidang yang sama udah pada terbang jauh – jauh, udah menyusuri pesisir pantai yang baru – baru. Lha ini masih berputar di situ – situ aja. Jadi bikin lemah dan lesu, dan sekaligus iri.

Kalo alasannya kurang effort? Kayaknya effort itu udah diinjak sampe mentok. Kurangnya fasilitas pendukung? Hah,  itukan tidak bisa dijadikan alasan, banyak orang yang bisa membuktikannya bahwa fasilitas bukan segalanya. Kurangnya modal? Ini apalagi, cuma bayi besar yang suka mengeluh dan menangis soal ini.

Motivasi sekarang ini sedang berkurang setengahnya. Malah volume iri jadi nambah 2 kali lipat. Kata – kata bijak dari para motivator juga udah gak bisa diterima sama akal waras.

Ya, kata – kata bijak bisa ditemukan di batu – batu, atau di selokan – selokan, atau di danau – danau, atau dimanapun itu. Tapi hanya menarik buat dipasang di dinding fb aja, sebagai simbol atau sebagai bendera bahwa kamu kuat,  bijak, dan sabar se-dunia, paling cuma dapet ‘like’ doang. Udah bohong sama hati, belum tentu menemukan jalan keluar juga kan? Malah tiap satu jam sekali sibuk liat notifkasi. Hah.

(Lagian sekarang – sekarang kok, para motivator ini, hampir semuanya terdengar seperti lagi menyanyikan lagunya Agnes Mo yang dulu yah, “Kadang – kadang tak ada logika…”?)

(Btw, why i keep repeating kata – kata bijak dan kaitannya dengan motivator?).

 Pffiuhhh…Need more effort and hardworks sepertinya.