Mode Acak

Terlalu banyak dengerin mp3 John Mayer dalam mode acak.

Gak cuma dengerin, tapi dengerin yang berulang – ulang.

Dimulai dengan Vultures, lalu ada beberapa dari Pearl Jam, Stings, U2 yang datang dan pergi setelah Gravity, In Repair, sama Stop This Train.

Tapi ‘Say’ ternyata yang paling sering terpanggil.

(Take all of your wasted honor
Every little past frustration
Take all of your so-called problems,
Better put ’em in quotations )

(Say what you need to say, say what you need to say , say what you need to say , say what you need to say … )

(Walking like a one man army
Fighting with the shadows in your head
Living out the same old moment
Knowing you’d be better off instead, If you could only . . . )

(Say what you need to say, say what you need to say , say what you need to say , say what you need to say … )

(Have no fear for giving in
Have no fear for giving over
You’d better know that in the end
Its better to say too much
Then never say what you need to say again)

(Even if your hands are shaking
And your faith is broken
Even as the eyes are closing
Do it with a heart wide open)

(Say what you need to say, say what you need to say , say what you need to say , say what you need to say … )

Salah satu tracks yang sepertinya pas dipake sebagai obat penenang di angkot, atau juga bisa dijadikan sebagai hidangan pembuka dalam acara self-help – motivation.

Tapi kalo mau diterapin dikehidupan aslinya. Berat. Cenderung tragis. LoL.

Iri

Awalnya gara – gara baca Haiklip yang ‘25 Years In Rock’ itu (Ya, resensi setengah jadinya ada di 1 post di bawah ini). Si Romantisme Keberuntungan.

Lalu, dan gak nyangka si adek udah punya DVD “Throught The Never” – nya Metalicca. Sayang sekalikan kalo gak ditonton mumpung hatinya masih dalam keadaan ‘cadas’.

Setengah menganga, terbelalak, dan merinding pas sampe di bagian dimana Hetfield naek ke panggung, berdiri (kayak William Wallace di film Braveheart, minus cat wajah ala pejuang scotland-nya tapi), lalu berteriak ke arah penonton dengan gaya khasnya sendri, yang menurut majalah Rolling Stones: ‘looks like a cattle-baron version of Erik the Viking’.

 “ARE YOU A LIVE ? AREEE YOUUU ALIVEEEEEEE?” 

Lalu disambut dengan riuh rendah pemirsa , dan setelahnya sudah dapat ditebak. Distorsi gitar sambung – menyambung dengan histeria fanatis yang tanpa batas. Semuanya seperti tidak peduli dengan masa lalu atau masa yang akan datang, hanya ada hari ini, bernyanyi bersama cattle- barron of Erik the Viking.

Dan kegilaanpun dimulai.

(HEY I’m your life I’m the one who takes you there)
(HEY! I’m your life I’m the one who cares)
(THEY. THEY! betray I’m your only true friend now)

(–Sad But True )

Wah gila yah, udah tua tapi masih punya power sebesar itu.

Jadi bikin kepalanya berputar – putar: Darimana dia dapat semua itu? Kekuatan itu? Apa yang membuatnya kayak sekarang ini? Hanya mengandalkan bakat? Kok rasanya gak mungkin yah kalo cuma defending on bakat.

Lalu coba – coba cari bio/discography detailnya. Tapi cuma dapet mini bionya dari imdb.

James Hetfield, 3 August 1963, his parents were divorced, and at a young age, he lost his mother to cancer. He grew up hunting, playing guitar, and was an ordinary quiet kid. Lars Ulrich put out an ad in 1981 in a newspaper asking somebody to jam out and listen to rock music with him and he replied. Lars and James hooked up, and started the band, Metalicca.

“Lalu pada tahun 1983, bersama Lars Ulrich memulai debutnya lewat album Kill em All. “

Ini artinya Hetfield mulai mencium bau kesuksesan sambil berjalan keluar dari ‘masa kegelapan’- nya itu di usia 20 kan. *sigh. *Gubrags.

Arrrgghhhh jadi iri.

Dalam 30kuh belum menghasilkan apa – apa.

 -_-.

Romantisme Keberuntungan

Di salah satu khotbah Jum’at yang pernah diikutin. Khotibnya kira – kira pernah bilang gini.

Ini saya coba tulis setepat mungkin yah: Alloh itu memberikan manusia berjenis- jenis selimut keberuntungan. Ada yang ngeh dan menjadi manusia yang sangat pintar bersyukur hingga hatinya selalu damai dan hangat. Sebagian besar tidak dan malah protas – protes dengan jalan yang telah ditentukanNya, sampe- sampe hatinya selalu menggigil, malah pada saat – saat tertentu menjadi beku.

Nah nah nah, saya sendiri, punya banyak cerita tentang keberuntungan. Terutama jika itu berkaitan dengan buku – buku, bacaan – bacaan, atau sesuatu yang berkaitan dengan asupan gizi untuk otak lainnya. Salah satunya terjadi pada senin malam lalu.

Senin itu, menjelang malam, motivitasi untuk mengacak – acak lemari itu datang secara tidak sengaja, gara – gara kondisi pasar yang sedang dalam masa sepi. Rumornya sebagian pelaku pasar sedang dalam mode menunggu. Menunggu apakah ada pencitraan lagi dari The Fed, seperti biasa, atau The Fed akan apa adanya. Tampil seperti biasa dengan berbagai bentuk ‘nyanyian kode’- nya, atau tampil beda, tampil topless se topless Nikita Mirzani yang dikasih linknya sama mister lumba – lumba lewat pesan fb senin siangnya, berikut menyisipkan pesan provokasi yang bunyinya: “Lo harus banyak liat yang ginian mblo, klik ok, wkwkwkwkwkwk”–.

(Tunggu – tunggu – tunggu, apa itu maksudnya dengan “Lo harus banyak liat yang beginian”?)

(Inikan bisa dikategorikan sebagai ‘pesan sarkastik’ kedua minggu ini yah. Kata kerja yang sangat memaksa, sangat minim jalan keluar, dan jelas berpotensi memancing perdebatan tanpa ujung. Setelah sebelumnya ada juga yang berbunyi “Coba deh, membina rumah tangga, daripada keluyuran kemana – mana” dari seorang uwak).

(Bales mister lumba – lumba, bunyi balesannya seperti ini: “halah, cakepan si neng @mayaseptha, natures natural, jenis feminisme langka, pas ketawa ngakak aja gesture bibirnya kayak yang ngajak tidur! )

(lalu muncul text balasan: “HAHAHAHAHAHA”)

(Kembali lagi kepada cerita keberuntungan)

Nggak sampe 15 menit setelah buka lemari, menemukan 3 harta karun sekaligus. Majalah HAI edisi “HAIKLIP 25 Years In Rock” terbitan tahun 2002, Match Made In Heaven, sama Jurnalisme Sastrawi – nya Andreas Harsono yang sudah lama hilang. Ditemukan diantara tumpukan buku – buku bertajuk ilmu pasti dari jaman masih SD.

Yang Match Made In Heaven malah masih dibungkus plastik? Mencoba mengingat-ingat kapan beli si ‘Match Made” ini, tapi gagal, satu – satunya petunjuk adalah pernah kasih rate buku ini di goodreads? Hoh, padahalkan belum pernah baca sama sekali? Oh mungkin karena waktu itu ngasih rates buku merupakan bentuk daripada exist di worlwideweb, atau mungkin salah satu jenis dari exist?.

(Sampe disini saya berhenti, berpikir, lalu berdoa, memohon sekuat-kuatnya, menengadahkan kedua tangan . Buku – buku ini, bacaan – bacaan ini, Ya Alloh, I wish my luck when met a girls are same as with my luck when meet with a books, atau nyerempet – nyerempet dikit lah minimal)

(mengingat, kok rasanya sistem navigasinya itu rusak yah, kayak yang yang error berat gitu, sepertinya dari ketiga kabel -merah –kuning-hijau – , salah satuya pasti ada yang nggak kepasang tapi gak tahu yang mana , jadi susah bedain mana yang worth it untuk diperjuangkan sama mana yang worth it buat dilupakan, akhirnya sering salah arah melulu, atau malah ketiga-tiganya lagi, gak kepasang? hiks).

Balik mbolak-mbalik HAIKLIP, setelah yang 2 lainnya disimpan.

Alasannya karena kepincut sama covernya yang vintages, latar belakang warna merah seperti merah pada majalah TIME, ilustrasi seorang gitaris tepat disimpan di tengah angka 25. Dan font, font yang dipakai itu, Georgia (atau Times New Roman gitu yah), dan memang harus memakai font yang sejenis itu jika niatnya pengen kelihatan vintages. Pas.

Semua isu yang bakal dibahas itu sepertinya sudah bisa terwakili dengan hanya melihat covernya saja. Mengundang penasaran. Menerka – menerka sekaligus yakin bakal seru. Campur aduk lah. Cool.

Dan yah. Ternyata benar. Bagus. Bagus banget. So Good. So fucking gooooods.

Ada kisah Ian Antono disitu, ada cerita tentang Jockie Suryaprayogo, ada dongeng dari Eet Syahranie, hah ada curhatan Nicky Astria, sama teriakan kekesalan dari Khrisna Sadrach. Dan lain – dan lain, dari generasi berikutnya, ada catatan – catatan Ahmad Dhani (Ahmad Dhani sebelum kehilangan idealisme-nya tapi), Bimbim, sama Azis Ms. Lalu ada pemikiran dari beberapa promotor rock legendaris macam Ovan Tobing, Harry “Koko” Santoso dan Log Zhelebour.

Nggak habis disitu, peta kekuatan musik (rock) dunia juga dikupas habis. Mulai dari awal kegilaan Queen dalam bermusik, setengah gilanya Metalicca dan The Doors, sampe gila benerannya The Sex Pistols sama Slipknot.

Timbul tenggelamnya band-band cadas. Bagaimana meraka bangun, jatuh, bangun, jatuh, bangun lagi. Bagaimana Joan Jett, Courtney Love, Alanis Morisette sudah mematok idealisme bagi dirinya sendiri sebelum era Britney Spears datang. Yang kelak kemudian muncul jenis rock baru yang diusung oleh Korn, Limp Bizkit sama Linkin Park karena godaan Britney Spears memang bukan untuk dilawan, tapi hanya bisa direkayasa.

Habis membaca semuanya.
Selanjutnya resensi.

Atau resensi mungkin lain kali saja. Toch kan, bukannya mau membatasi, karena standar rasa (taste) dan cool itu bisa berbeda – beda dari setiap manusia.

Tapi kalo boleh bilang, HAIKLIP , dengan segala gaya penulisannya, segala gaya bertutur dari para punggawanya, segala isu – isu yang coba disampaikannya, sanggup membuka romantisme masa – masa junky dulu; Gor Saparua Bandung, celana jeans ketat berwarna hitam, sepatu boots hitam tinggi dan bergerigi, rantai dimana – dimana, kacamata burgundy (waktu itu kan matanya belum minus), kaos oblong putih bergambar tengkorak dengan latar bendera inggris. Doh serasa lanange jagat.

(Beneran yah, pada akhirnya, kita akan selalu sampai pada satu waktu, dimana pada waktu itu kita berada pada satu titik, dimana di titik itu kita bisa mentertawakan romantisme kehidupan yang lalu – lalu.)

Oh ya sama satu lagi, selain pake kaos oblong dan jeans ketat, waktu itu, suka cat rambut jadi biru menyala juga.  Hihihihihi (*gigling).