Revolusi Baru Dari Dinasti Berlusconi?

Lupakan dulu kebijakan three arrow yang didengungkan Hiruhiko Kuroda buat mengatrol ekonomi jepang, Angela Merkel yang pusing karena negara-negara tetangga (Spain dan Italia) yang masih saja pengen minjem duit, atau tarik undur Ben Bernanke mengenai QE baru (lagi?) yang akan di gelontorkan The FED tahun ini.

Sambil minum kopi. Mari kembali ke Silvio Berlusconi, presiden AC Milan, yang lagi ogah menemui Mr. Allegri.

Big bos lebih memilih terbang ke Belarusia untuk menghadiri perpisahan satu satu pemainnya (Milan 2001 – 2010). Khakaber Kaladze. Daripada urun rembuk mengenai kontrak sang pelatih.

Hari ini ada berita dari goal.com, Allesandro Costacurta: Berlusconi Ingin Menyingkirkan Allegri?.

Sebelumnya ada juga yang tidak kalah heboh. Fans Garis Keras AC Milan Ingin Allegri Bertahan .

(Masih samar-samar fans garis keras yang mana yang dimaksud, disitu hanya disebutkan ‘Curva Sud’, hanya sebuah tribun tempat nongkrong beberapa ultras, seperti Fossa Dei Leoni, Brigatte Rossonerre, dan Commandos Tigre, yang mana yang ingin Allegri bertahan? Secara mereka tidak jarang bersilang pendapat mengenai kebijakan klub, goal id memang kadang suka ambigu, mentang – mentang ada google translator. >.<)

Hanya ada 2 skenario.

Skenario pertamax. Apa yang disampaikan Costacurta adalah benar, which means Berlusconi menganggap teriakan dari ‘garis keras’ yang ditujukan kepadanya hanya kepulan asap. Perih – perih dikit, tetap jalan.

Skenario keduax. Melunak dan Allegri tetap ditempatnya.

Secara pribadi, saya menginginkan Berlusconi ada di skenario pertama. Masih keukeuh dengan apa yang saya tulis di sini.

Saya bukan seniman, hanya penikmat seni, dan sepakbola itu adalah seni, entah itu kalah atau menang. Dalam kurun 3 tahun Allegri telah menghilangkan kata ‘seni’ dari Milan — yang mana saya tulis berurutan diatas sebanyak tiga kali, tigaaaa coba–

Terlepas dari gegap gempitanya Allegri, mampu menginjakan kaki di posisi ke 3 dengan skuad yang katanya ‘seadanya’.

Keukeuh sajahlah. Sok rek naon lah. Hidup keukeuh.

Sallinger Dan Jagger

Pasca membaca ulang Cather In The Rye. Ada sisi Sallinger yang paling saya suka (sekaligus bisa membuat saya berada di titik gamang, terlepas dari, katanya saya selalu bisa mencampuradukan dua sisi yang pasti, menjadi sesuatu yang baru, yang absurd)

 ”Aku berpikir, bahkan, jika aku mati, dan mereka masukkan aku dalam kuburan, dan aku memiliki batu nisan atau apalah, di situ akan tertulis ‘Holden Caulfield’, dan kemudian tahun kelahiranku dan tahun kematianku, dan kemudian tepat di bawahnya tertulis ‘FUCK YOU!’ Aku yakin itu.”

Lalu ada Rolling Stones, Play With Fire, diputar berulang-ulang.

“Your old man took her diamond’s and tiaras by the score. Now she gets her kicks in Stepney. Not in Knightsbridge anymore. So don’t play with me, cause you’re playing with fire.”

Dan tentu, seperti biasa, Sallinger dan Jagger, dengan cara yang tidak bisa diterangkan, selalu membuat saya bisa berdamai dengan berbagai kemungkinan. Bersabar.

Hanya saja, ternyata kesabaran itu bisa menipis, daya tawarnya bisa menjadi membesar atau mengecil. Mungkin sekarang sedang mengecil, jadi saya bisa katakan;  Seperti Caulfield, kadang seseorang tidak bisa selalu berdamai dengan amarahnya.

So dont play with me, cause you play with fire.  Untuk siapapun itu.

Rectoverso Dan Susah Tidur

Kalo ngomongon film, boleh dibilang separo hidup itu dididiknya sama film. Mulai dari saat kecil, dididik sama yang namanya “Janur Kuning”, sesederhana apapun kalo kita bisa melawan ya lawan. Lalu ada ‘Naga Bonar (I)’, jangan pernah nilai orang dari luarnya saja. Si ‘Unyil’, banyak teman itu banyak rejeki.

Agak dewasa dikit, tahun 90-an kesini mulai ke produk import, Rambo, mendidik agar jangan bikin tentara marah. Tokyo Love Story, well, sulit buat ngomong ini sebetulnya, dari film ini diajari kalo cinta tidak harus memiliki. Bruce Lee The Dragon Story, mengajari jangan ngajak berantem segimanapun jagonya. And last but not the least, Basic Instinct, film blue (-dulu statusnya film ini blue loh-) yang membuktikan kalo kakek kita itu tidak pernah salah pas bilang “Paha wanita itu produk paling bahaya sedunia”.

Selebihnya, cuma lewat dikepala sekilas pandang.

Lalu malam tadi, baru nonton yang namanya Rectoverso. Setingannya seperti cerita satu kali tayang FTV, hanya saja ini FTV versi bagus.

Yang paling kena di hati itu cerita ‘Malaikat Juga Tahu’. Yang bikin suntuk semalaman, ikut-ikutan menghitung bintang seperti Abang (yang diperankan sangat baik oleh Lukman Sardi).

Mmmmhhhhh….

Nulis apalagi yak…???

Mmmmhhhh, intinya, kadang manusia itu bermasalah dengan ‘koordinasi’, seperti Abang. Tapi itu bukan apa-apa, karena sebenarnya masalah terbesar manusia ada pada ‘hati nurani’.

Missed The (Real) Number 10.

Tadi malem Milan menuntaskan pertandingan terakhirnya melawan Siena. Hasil akhirnya 1-2 buat Il Diavollo Rosso. Hurayyyyyy, akhirnya tiket kualifikasi liga champion bisa diamankan.

Milan ketinggalan 1-0 hampir sepanjang pertandingan, 2 gol dimenit – menit terakhir bisa dibilang sebagai gol ‘keberuntungan’, kalo tidak mau disebut gol ‘keajaiban’. Mario Balotteli plus Phillipe Mexes disanjung sebagai pahlawan pada laga ini, saya yakin semua milanisti seluruh dunia meloncat kegirangan pas injury time tadi malem.

Ada kabar buruk, ada kabar baik. Ada juga yang abu-abu.

Kabar buruknya, selama 3 musim dipegang Allegri, prestasi milan semakin menurun, musim pertama Allegri berhasil membawa milan scudetto, musim kedua runner up, dan sekarang malah finish di tempat ketiga (itu pun dengan berbagai catatan disana – sini). Salah satunya, selama di pegang Allegri, tidak ada keindahan dilapangan tengah, ini efeknya bikin semua milanisti deg-degan sampe menit – menit terakhir. Milan udah gak sangar jika tanding di eropa (Liga Champion). Jangan tanya bagaimana di serie a.

Milan ditinggalkan banyak bintang di awal musim. Itu bukan alasan, toh yang meninggalkan Milan sebetulnya hanya 2 bintang (Thiago Silva dan Ibrahimovic, keduanya hijrah ke PSG). Bintang lainnya, bisa dikatakan bintang yang sudah mulai meredup dimakan usia. Gennaro Gattuso sudah tidak bisa lagi disebut gelandang pengangkut air, gelandang pengangkut lemak mungkin. Lalu Allesandro Nesta, Gianluca Zambrotta, Clarence Seedorf, nafasnya ngos-ngosan jika masuk menit 65.

Milan sedang revolusi besar-besaran. Ini juga bukan alasan.

Milan sedang regenerasi. Yang ini bolehlah, mungkin bisa dimaafkan.

Lalu kabar baik datang sebelum kompetesi berakhir. Allegri tidak akan melatih milan di kompetisi musim depan. Cihuy.

Alergi Allegri

Allegri bukan tanpa jasa jika jadi meninggalkan Milan di akhir musim ini, diakui atau tidak, Allegri adalah orang yang berjasa yang membawa perubahan pada wajah Milan, Milan jadi lebih banyak dihuni oleh pemain muda.

Tapi tetep tidak terlalu suka dengan gaya kepelatihan Allegri, salah satu milanisti di forum bilang “Gaya maen milan selama di pegang Allegri, ko semakin sini, semakin bikin alergi sih”. Which I amen-ed.

Mungkin benar. Milan telah kehilangan tradisinya selama dipegang Allegri. Bermain tanpa the real number 10 (playmaker), itu bukan ciri khas Milan.

Keindahan lini tengah itu ciri karakter Milan sejak dulu. Sebut saja The Bionics Ruud Gullit pada waktu era Trio Belanda, The Genius Zvonimir Boban pada era selanjutnya, disusul dengan The Greats Manuel Rui Costa, dan terakhir Milan malah memakai 2 playmaker sekaligus. Andrea Pirlo dan Clarence Seedorf sebagai estafet dari nomor 10. Hasilnya gaya bermain Milan jadi enak dipandang, terstruktur dengan cantik dari ke belakang sampai ke depan, entah itu menang atau kalah. Itu lah Milan.

Sepakbola itu seperti hidup, tim yang baik tidak akan selalu menang. Thats why i love this game, thats why i love Milan so deep.

Zvonimir Boban

Selama 3 tahun dipegang Allegri. Semua itu tidak ada, Kevin Prince Boateng, bukan dirigen yang bisa mengatur ritme permainan dengan indah. Lebih mirip Gatusso tapi bernomor 10, malah pada satu titik, gaya main Boateng malah jadi kayak Hariono pemain persib itu. LoL >.<

Ricardo Montolivo yang katanya berpotensi bisa menjadi Andrea Pirlo baru. Skillnya tidak bisa keluar dengan maksimal seperti kala membela Fiorentina, salah satuya karena dijadikan pemain jangkar oleh Mr Alle, oh commmooooooon.

Kabar baik berikutnya. Konon katanya ada banyak bintang – bintang muda dari akademi milan yang siap meng-orbit. Sebut saja, Hachim Mastour, Bryan Cristante, dan inventasi pada gelandang pemain Serie B, Ricardo Saponara (Saponara, saponara, sampei berjumpa pulang?), yang mungkin akan menjadi bintang besar menyusul keberhasilan Stephan El-Sharawy di musim ini.

Yang abu – abu adalah siapakah pelatih Milan selanjutnya.

Untuk pelatih. Saya yakin Berlusconi memiliki intuisi yang lebih tentang hal ini (infact, intuisi mencari ‘daun muda’-nya sudah terbukti sangat bagus sekali :p). Tapi kalo boleh minta, pengen dilatih sama legenda, oleh orang dalam yang tahu sejarah panjang dari Milan itu sendiri. Mauro Tassoti kalo misal boleh nunjuk idung orangnya langsung.

*Sok Bung Towel abis, #KomentatorPartikelir

Hahahaha

Hati. (Yang Terlalu) Hati – Hati.

Dulu, para veteran (traders) pernah bilang, cuma ada tiga aturan yang ada di pasar.

1. Developing informations.
2. let the price confirms.
3. Managing the risk.

Yang ketiga itu sedikit kompleks, karena urusannya sama uang, uang itu selalu sejajar dengan mental, dan mental itu tidak akan jauh – jauh dengan yang namanya hati. Sedangkan hati itu punya halaman yang namanya muka (wajah). Nah jika mukanya sedang asem, berarti hatinya sedang masam. Masam itu antidotnya ialah yang manis-manis.

Intinya, kalo di fortpolio ada gambar muka masam. Itu berarti sudah waktunya mencari yang ‘manis-manis’.

Jangan takut, kita kan di tugaskan untuk memilih yang manis, kalo yang manis-nya gak mau. Ya gak apa- apa, namanya juga usaha,….

Kenapa harus nulis yang ginian?

Biarin ah gak nyambung juga.

m(_ _)m