Melayani Waktu

Jadi kemaren itu judulnya hari Koil (lagi). Terlalu lama tidak dimasukin ke playlist, hampir setahunan, dipasang lagi gara – gara ada temen fb upload gambar “When music too loud, your’re too old” .

Dan ternyata terdengar masih juara — sumpah, ini bukan sekedar mau bilang “Hey, akuh masih muda looo”.

Ini penggalan dari ‘Semoga Kau Sembuh Part II’.

…dan akhirnya bahagia melayani waktu, melewati rinduku menyanjung harapan…

Dan akhirnya bahagia melayani waktu? Masih mencari – cari dalam gelap sebetulnya, tapi berani bilang; Woke up in the morning with over 1000 stories left behind, and contain gigantic wishes and prays (never know goin’ come true or not). Koil can explain what antidot is.

Waktu.

Murahan.

Katanya, setiap manusia itu akan diuji dengan “…sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Q.S. 2; 155-157)

Dan kalo hanya gara – gara yang sedikit itu sampai meninggalkan Jum’at-an. Kayaknya kok jadi ‘murahan’ banget yak.

T.T

Atitut

Berawal dari kejenuhan, dan keinginan membaca ulang ‘Breakfast at Tiffany’ (karena katanya Jim Carrey “Women are a labyrinth, my friend. I don’t think you listen to her. I think you tell her what she wants to hear. She wants you to thirst for knowledge about who she is, all the complicated splendor that is women. When your love is truly giving, it will come back to you ten fold”). Dan katanya saya bisa menemukan kebenarannya di ‘Breakfast…’ itu.

Tapi pas dipikir-pikir, ngapain juga? Kan kata Aa Gym “Jodoh mah sudah ada yang menentukan”. Akhirnya terjebak di tema yang lain,  The Inteligent Investor, dari Benjamin Graham.

Buku yang bukan sekedar how to – how to memang, salah satu buku retro yang sepertinya tidak akan pernah usang oleh jaman, isinya lebih berat dari tulisan covernya –Edisi asli terjual lebih dari 1 juta kopi–. Selalu ada rasa yang berbeda ketika membaca buku yang dimasak oleh seseorang yang bergelar ‘sinuhun’. Fakta validnya, buku ini bukan jenis makanan ringan yang dapat dinimati di angkot. Halah.

Salah satu yang Graham katakan berulang – ulang dalam bab demi babnya adalah atitut (baca: Attitude). Salah satunya datang dari bab pertamanya;

…Hal yang jauh lebih penting sebenarnya bukan pada bagaimana perilaku investasi anda, tapi bagaimana perilaku anda.

Saya paham betul apa yang dimaksudkan oleh Ben Graham, atau setidaknya saya merasa paham apa yang ingin ia sampaikan dengan cara yang jujur. Bukan sebagai gejala awal penyakit Knowing Every Particular Objects, KEPO. 

Saya tidak bekerja lagi di lingkungan kantor seperti dulu, yang secara signifikan hanya berinteraksi dengan 1-2-3-10 orang saja. Yang mana disitu saya bisa melihat mana yang kecut dan mana yang manis secara jelas. walaupun iya, harus diakui kadang, terlalu banyak topeng. Kesamaan hanya satu, sama – sama berperan sebagai analyst. Bedanya dari subjek yang dianalisa.

Disni saya tahu bagaimana rasanya terseret-seret oleh harga, sakitnya nyangkut dipucuk sedangkan harga terjun bebas. Demam – demam karena tergelincir dilembah, padahal harga sedang mendaki bukit.

Tidak ada yang bisa menolong, meminta tolong pun mustahil. prsonal habbit lah yang berperan, sikap.

Katanya karir dan pekerjaan itu beda. Pekerjaan itu dapat di-peta-kan lewat promosi, bonus, kenaikan umr, etc-etc. Sedangkan karir  itu harus di-peta-kan sendiri. Jadi bisa dikatakan sekarang saya sedang meniti karir (walaupun mungkin hanya karena pure dumb act).

Balik lagi ke Benjamin Graham dan si Atitut…

Graham mengatakan: Kecerdasan disiplin itu adalah segalanya di Industri ini. Crash dan Booming bisa menjadi menguntungkan atau malah jadi jalan tol menuju kebangkrutan. Bearish atau bullish itu bukan resiko, cara menyikapi itu lah resiko.

Mmmmmhhh…

*Ngetuk – ngetuk meja. Pakai lagi kacamata.

Dalam Bab 2 dan seterusnya baru saya menemukan jawabannya sedikit demi sedikit, dari historis pasar keuangan yang Graham paparkan.

Di luar ‘kecerdasan disiplin’. Dari sejarah keuangan financial. Saya melihat semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Guru IPS (namanya Pak Mamat) katakan dulu. Tentang hukum ekonomi mengenai jumlah permintaan dan penawaran.

Pak Mamat bilang: “Jika ada sepuluh murid SLTPN I Pangalengan  mau beli es bon-bon, sedangkan es bon-bon nya cuma 1. Harganya naek apa turun”?

Sekelas semua menjawab: Naek Bapakkkkk…

Graham bilang: “Jika ekspetasi investor kepada satu saham itu berlebihan, apa yang investor pintar lakukan, dimana saham terlebut sudah terlalu banyak yang menginginkannya”

Saya tidak perlu menyontek apa yang teman – teman sekelas dulu teriakan: Juaaalllll gan….

Tidak semudah itu memang, tapi garis besarnya masih ada pada bandul tua yang bernama supply and demands.

Di Bab 5, saya mulai berpikir Pak Mamat dan Benjamin Graham itu dulunya satu kelas. Di sekolah pendidikan guru ‘Kebon Kawung’, Bandung. m(_ _)m

Di bab 5 juga saya menemukan kesalahan – kesalahan mendasar yang sering kali dilakukan oleh para investor, Kata Graham, “Investor seringkali masuk kedalam lingkaran keributan, dan dengan gampang mengikuti keramaian, mereka kadang lupa bertanya, ‘berapa harganya?”.

Dan kesalahan inilah yang memicu investor berakhir dengan kerugian dan atau kebangkrutan. Mereka tidak mengenal dirinya sendiri, tidak tahu kekurangan masing – masing such as, panu, kadas, kurap, kutu air, dan suram masa depan.

Dengan kata lain. Investor gagal adalah investor yang tidak punya ATITUT!

*Bersambung