Atitut

Berawal dari kejenuhan, dan keinginan membaca ulang ‘Breakfast at Tiffany’ (karena katanya Jim Carrey “Women are a labyrinth, my friend. I don’t think you listen to her. I think you tell her what she wants to hear. She wants you to thirst for knowledge about who she is, all the complicated splendor that is women. When your love is truly giving, it will come back to you ten fold”). Dan katanya saya bisa menemukan kebenarannya di ‘Breakfast…’ itu.

Tapi pas dipikir-pikir, ngapain juga? Kan kata Aa Gym “Jodoh mah sudah ada yang menentukan”. Akhirnya terjebak di tema yang lain,  The Inteligent Investor, dari Benjamin Graham.

Buku yang bukan sekedar how to – how to memang, salah satu buku retro yang sepertinya tidak akan pernah usang oleh jaman, isinya lebih berat dari tulisan covernya –Edisi asli terjual lebih dari 1 juta kopi–. Selalu ada rasa yang berbeda ketika membaca buku yang dimasak oleh seseorang yang bergelar ‘sinuhun’. Fakta validnya, buku ini bukan jenis makanan ringan yang dapat dinimati di angkot. Halah.

Salah satu yang Graham katakan berulang – ulang dalam bab demi babnya adalah atitut (baca: Attitude). Salah satunya datang dari bab pertamanya;

…Hal yang jauh lebih penting sebenarnya bukan pada bagaimana perilaku investasi anda, tapi bagaimana perilaku anda.

Saya paham betul apa yang dimaksudkan oleh Ben Graham, atau setidaknya saya merasa paham apa yang ingin ia sampaikan dengan cara yang jujur. Bukan sebagai gejala awal penyakit Knowing Every Particular Objects, KEPO. 

Saya tidak bekerja lagi di lingkungan kantor seperti dulu, yang secara signifikan hanya berinteraksi dengan 1-2-3-10 orang saja. Yang mana disitu saya bisa melihat mana yang kecut dan mana yang manis secara jelas. walaupun iya, harus diakui kadang, terlalu banyak topeng. Kesamaan hanya satu, sama – sama berperan sebagai analyst. Bedanya dari subjek yang dianalisa.

Disni saya tahu bagaimana rasanya terseret-seret oleh harga, sakitnya nyangkut dipucuk sedangkan harga terjun bebas. Demam – demam karena tergelincir dilembah, padahal harga sedang mendaki bukit.

Tidak ada yang bisa menolong, meminta tolong pun mustahil. prsonal habbit lah yang berperan, sikap.

Katanya karir dan pekerjaan itu beda. Pekerjaan itu dapat di-peta-kan lewat promosi, bonus, kenaikan umr, etc-etc. Sedangkan karir  itu harus di-peta-kan sendiri. Jadi bisa dikatakan sekarang saya sedang meniti karir (walaupun mungkin hanya karena pure dumb act).

Balik lagi ke Benjamin Graham dan si Atitut…

Graham mengatakan: Kecerdasan disiplin itu adalah segalanya di Industri ini. Crash dan Booming bisa menjadi menguntungkan atau malah jadi jalan tol menuju kebangkrutan. Bearish atau bullish itu bukan resiko, cara menyikapi itu lah resiko.

Mmmmmhhh…

*Ngetuk – ngetuk meja. Pakai lagi kacamata.

Dalam Bab 2 dan seterusnya baru saya menemukan jawabannya sedikit demi sedikit, dari historis pasar keuangan yang Graham paparkan.

Di luar ‘kecerdasan disiplin’. Dari sejarah keuangan financial. Saya melihat semuanya berjalan sesuai dengan apa yang Guru IPS (namanya Pak Mamat) katakan dulu. Tentang hukum ekonomi mengenai jumlah permintaan dan penawaran.

Pak Mamat bilang: “Jika ada sepuluh murid SLTPN I Pangalengan  mau beli es bon-bon, sedangkan es bon-bon nya cuma 1. Harganya naek apa turun”?

Sekelas semua menjawab: Naek Bapakkkkk…

Graham bilang: “Jika ekspetasi investor kepada satu saham itu berlebihan, apa yang investor pintar lakukan, dimana saham terlebut sudah terlalu banyak yang menginginkannya”

Saya tidak perlu menyontek apa yang teman – teman sekelas dulu teriakan: Juaaalllll gan….

Tidak semudah itu memang, tapi garis besarnya masih ada pada bandul tua yang bernama supply and demands.

Di Bab 5, saya mulai berpikir Pak Mamat dan Benjamin Graham itu dulunya satu kelas. Di sekolah pendidikan guru ‘Kebon Kawung’, Bandung. m(_ _)m

Di bab 5 juga saya menemukan kesalahan – kesalahan mendasar yang sering kali dilakukan oleh para investor, Kata Graham, “Investor seringkali masuk kedalam lingkaran keributan, dan dengan gampang mengikuti keramaian, mereka kadang lupa bertanya, ‘berapa harganya?”.

Dan kesalahan inilah yang memicu investor berakhir dengan kerugian dan atau kebangkrutan. Mereka tidak mengenal dirinya sendiri, tidak tahu kekurangan masing – masing such as, panu, kadas, kurap, kutu air, dan suram masa depan.

Dengan kata lain. Investor gagal adalah investor yang tidak punya ATITUT!

*Bersambung

AADC

Terbangun dengan satu resolusi pagi “Mana kopi – mana kopi?”. Cek-ing chart, harga gak kemana – mana, stagnan, tidak menarik.

Akhirnya nyari – nyari apa yang happening hari ini. Ternyata ada yang menarik di kanal artikelnya marketoracle. Judulnya menyeramkan: Could Cyprus Blow Up The Global Banking System.

Cek ulang sana – sini. Lha, semua portal bisnis bahas Cyprus?. Ada Apa Dengan Cyprus, AADC.

Cyprus (baca: Siprus), negara kecil di daerah mediterania dan masih satu sekat dengan Eropa. Gonjang – ganjingnya Cyprus mengeluarkan kebijakan yang tidak biasa;

Para deposan ikut menanggung ongkos bailout, atau dengan kata lain nasabah ikut membayar secara langsung dari tabungan pribadinya masing – masing. Utang pemerintah yang berasal dari dana bailout yang digelontorkan oleh IMF, dan negara – negara Eropa lainnya, dibebankan kepada rakyatnya sendiri dengan kemasan yang diberi nama ‘pajak baru’.

Dana yang disuntikan itu sebesar 10 M Euro. Dengan hurup “M” dan kata “Euro” saja itu sudah dapat dipastikan jika nol-nya pasti banyak banget kalo di rupiahkan.

Terakhir kabarnya para penabung ramai-ramai ambil uang di atm. Takut duitnya kepotong si ‘pajak baru’.

Ini bottom line dari marketoracle. Lengkapnya klik disini.

PRECISELY. And that is what Cyprus just proved: that the ENTIRE EU “fix” was a huge lie. Nothing changed. Nothing was fixed. The banks are still leveraged at 26 to 1 and sitting on loads of garbage debts. And the EU countries are all still totally bankrupt.

Garbage debt? Jadi ingat bukunya Lawrence G Mcdonald, The Collapse Of Lehman Brothers.

Ceritanya ada di tahun 2008, saat amerika di hantui oleh hantu yang bernama resesi. Pemicunya adalah kredit rumah yang gagal bayar. Dan saat itu Lehman Brothers adalah salah satu pemain besar yang jatuh tertimpa tangga, tangganya tangga besi 20 biji. Sampai sekarang si Lehman dan saudaranya itu tidak pernah bangun lagi. Pusing 7 keliling. Bangkrut 7 turunan.

Saat itu Lehman memborong ‘kertas’ kreditan rumah warga AS secara massive. Dengan niatan dikemas, dikapalkan, dan dijual kembali dengan nama baru yang cantik, CDO (Collaterallized Debt Obligation), oligasi utang terjamin, dengan grade AAA dibelakang sebagai pemanisnya.

Tapi karena pasar sudah sangat berbusa (menggelembung), banyak kreditor yang gagal bayar, akhirnya CDO cantik itu jadinya tidak laku, diperparah dengan tidak ada waktu untuk mencairkannya ke aset yang lain. Grade AAA itu akhirnya jadi sampah. Garbage debt.

The only reason that we haven’t seen a systemic collapse there is because Mario Draghi, the head of the ECB, said he’d buy unlimited amounts of EU bonds

Note, Draghi said he would buy these bonds, he hasn’t actually bought anything since he said this

Tahun 2008, Richard S. Fuld Jr. CEO Lehman brother. Juga menyanyikan lagu yang berlirik sama seperti Mario Draghi nyanyikan.  “Everything gonna be allright”. Semuanya bisa diatasi. Santai aja. Cek kulkas gan.

History does nothing but repeat itself. What we call chaos is just patterns we haven’t recognized. What we call random is just patterns we can’t decipher. what we can’t understand we call nonsense. What we can’t read we call gibberish.  There is no free will. There are no variables.Chuck Palahniuk, The Survivor.

Nah jika bersandar kepada apa yang dikatakan Chuck Palahniuk. Yang mana katanya sejarah itu selalu terulang.

Kali ini kemungkinan ‘pattern’ -nya juga bisa dikenali, malah bisa dikatakan sama. Bokek tapi sombong.

Lokal Dan Asing Yang Berebut Cuan.

Tempo hari sekilas membaca beritanya kontan.co.id, dan ternyata isunya masih panas sampai sekarang, terutama di kalangan pedagang eceran (retail traders) yang  bermodal cekak. “Awas Ada 9 Broker Asing Ilegal

Di bahas di berbagai forum, jadi ajang debat antara yang pro dan kontra. Di salah satu forum untuk sementara yang kontra unggul angka. 1 berbanding 10. Setidaknya jika dilihar dari jumlah post dan jumlah bata. 1 post yang pro, di-bata-nya oleh 10 member yang kontra. Yang pro jelas babak belur.

Make sense. Jika melihat kinerja dan modus operandi pialang lokal (yang katanya mendapat jaminan langsung dari lembaga resmi negara) beberapa tahun kebelakang;

Target ‘nasabah’ minded, tidak ada kenyamanan bagi trader/investor, marketing yang terlalu ‘naik-naik ke puncak gunung’.

Dari lembaga yang mengeluarkan regulasi pun sama saja, tidak ada perlindungan yang jelas. Penipuan investasi yang terjadi lagi – terjadi lagi, jarang masuk ranah hukum, numpang lewat di media massa, jika pun berhasil di-perdata-kan, kebanyakan hasilnya sama, trader atau investorlah yang melempar handuk sambil berdarah-darah.

Baru dari sisi keamanan. Belum dari sisi uang.

Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Sepertinya hadist paling sahih yang pialang lokal  pegang untuk saat ini.

Untuk broker lokal, trader harus menyediakan uang yang benar-benar dingin sebesar 50 sampai 100 juta (Hanya 2-3 broker yang menawarkan akun mikro, dan itupun belum banyak yang teruji). Bandingkan dengan broker luar yang jauh berkali lipat di bawahnya.

Di bawah ini adalah kutipan, kenapa bappebti ingin trader lokal bekerja dengan broker dalam negeri.Dengan cara yang, maaf, aneh. Memblokir situs asing? Sangat dewasa sekali.

….Bappebti menyangkal hal tersebut. Alfons menegaskan, keputusan memblokir situs pialang asing ini bertujuan melindungi nasabah di dalam negeri. Karena lokasi broker di negara lain, Bappebti akan sulit membantu nasabah bila terjadi masalah hukum

Helloooooo…Apa kabar dengan kasus-kasus investasi yang terjadi dengan modus yang hampir sama, yang dilakukan oleh broker dibawah lembaga ini? Didalam negeri ini?.

Kabar burungnya kebanyakan dari mereka lepas dengan kata kunci; Investornya yang kurang edukasi. Commonnnnn kurang edukasi? Uang ratusan juta itu bukan “uang potong bebek angsa”.

Bandingkan dengan broker luar, dengan regulator seperti ASIC (Australia), NFA (USA), FSA (UK), FSA(JAPAN), dan apalah itu namanya (SWISS). Broker yang berada dibawah mereka, tidak akan pernah berani macam-macam, jangankan bermacam-macam, satu macam saja, resiko yang diterima berarti diujung tanduk kebangkrutan. Nasabah kecewa sama saja dengan cari mati. Dan itu tidak hanya diatas kertas.

Regulator New Zealand? Cyprus? Russia?. Sama ketatnya, seketat celana Lady Gaga yang terbuat dari kulit sapi itu.

Dari sini saja, jelas, siapa yang melindungi dan dilindungi.

Dari kenyamanan (baca: Transaksi).

Personally. Saya adalah seorang Indonesia, dan tentu saja sangat mencintai Indonesia. Tapi beda cerita jika sudah dihubungkan dengan komisi per transaksi.

Analisa itu susah – susah gampang, memilih posisi juga, baik ketika analisa dan masuk posisi (terlepas dari susah dan gampang), jantung itu dagdigdugnya sama dengan pembuat kebijakan keuangan diluaran sana, atau artis-artis Xfactor di akhir sesi, atau seorang lelaki yang berjumpa calon mertua. Lalu harus di tambah dengan komisi yang segede kaki gajah?

Pfiuhhhh…

Secara pribadi saya juga memilih lain kali aja deh. Setelah di dalam negeri menjadi lebih baik. Percayalah, tiap – tiap investor mempunyai mentalitas  yang bertipe sama, bukan tipe ‘pengecam masa lalu, dan pesimis akan masa depan’. Semakin baik, semakin percaya.

Ada nyaman, ada cuan. Ada aman, ada cuan. 🙂

Menonton Mimpi

Beberapa hari lalu saya diberi 1 keping dvd oleh seorang teman, judulnya istimewa “Hari perempuan sedunia”. Isinya sederhana, cuplikan perempuan – perempuan yang dibangkitkan lagi harga dirinya, dihidupkan kembali semangatnya, dan dinyalakan kembali mimpi-mimpinya. Selama 180 menit disuguhi dengan rekam – jejak pelatihan entreprenurship yang diprakarsai oleh lembaga non-profits ‘invisible’ ini.

Melongo, sekaligus kagum tak terperikan ada program peduli perempuan – perempuan Indonesia yang terdampar diluar negeri. Mereka yang senang atau tidak senang menjalani hidup sebagai TKW, dilatih untuk kembali ke tanah ibu pertiwi dengan kepala tegak, tegak setegak-tegaknya.

Dalam sekian detik, sedikit merasa kecolongan waktu. Jika saja kepingan ini sampai ditangan saya 1 atau 2 tahun yang lalu, rasanya saya tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama untuk “terseok-seok dan tergopoh – gopoh”.

Disitu diceritakan, salah satunya, ada seorang perempuan paruh baya, tanpa pendidikan, menjadi pembantu rumah tangga, bermodalkan kemauan untuk menghidupi anak-anaknya dikampung halaman.

Ibu ini bilang “Saya kesana (Thailand), untuk mencari uang untuk anak-anak saya, jika ada uang lebih, saya akan buka usaha, saya tidak pernah tahu usaha apa yang akan saya jalankan, yang saya tahu saya akan lebih lama bersama anak-anak saya”

Sederhana. Tapi mungkin inilah sumber kekuatannya.

Singkat cerita, tabungan pun terkumpul, uang sudah ditangan, pulang.

Membuka usaha yang diimpikan. Ia pun senang, anak-anaknya senang, sanak saudara senang, semuanya senang.

Klasik memang, se-klasik cerita Ugly Duck Beautifull Swan. Tapi ada poin disini yang saya tahu saya akan mengingat cerita ini cukup lama;

Harus banyak malu sama ibu-ibu.

Mungkin benar, mimpi itu harus tersirat secara harfiah, ditulis di atas kertas, ditempel di dinding, dibaca, boleh diubah, tapi tidak ada seorang pun (atau apapun) boleh menghapusnya. Bahkan oleh sedih yang panjang. Atau oleh dunia yang,….memang seringkali tidak adil.

Ada work ethics, ada semangat untuk berubah lagi setelah berubah.

“Saya dulu, mengambil keputusan yang besar untuk meninggalkan anak-anak saya keluar negeri. Langkah saya untuk menjadi pengusaha, adalah keputusan besar kedua”.