Capek. Capek sangat.

Kepala: Sapikkkkkkkkkkkkkk….!!!

Hati: Kenapa lu?

Kepala: Saya capek, capek sekali, saya nyerah sajah yak mas bro, yah, yah, yah, pleaseeeee?

Hati: Okey, terserah eluh. Itu berarti eluh hanya orang yang bisanya cuma di atas kertas, Indonesia banget. Sapik!

Kepala: Semuanya irrasional mas bro, gag mungkin deh kayaknya, langit terlalu tinggi.

Hati: Sejak kapan elu rasional, sejak kapan elu gag percaya sama yang Ghaib. Sejak kapan elu gag percaya bahwa Alloh itu irrasional. Bikin bumi ini, bikin surga, bikin neraka, bikin gua, bikin elu dan nempatin semua mimpi orang ini (nunjuk muka kusut orang yang lagi posting blogs) di situ. Peang!

Kepala: Tapi….Anu….

Hati: Tapi apa? Anu apa? Orang kayak elu tuh banyak alasan buat nyerah? Elu cuma pengen denger nasehat gua yang pengen elu denger kan? Bahwa elu boleh nyerah kan?

 Okey, satu-satunya alasan elu boleh nyarah adalah: Bahwa elu gag ada bedanya sama orang yang udah nipu elu, ngejatuhin elu, and bikin elu sengsara itu, titik. Lainnya? Elu itu cuma benda kosong yang beruntung di tempatkan di atas gua (hati).

Silent…Hati leave the conversation dengan dongkol. Hati dongkol. Kepala nunduk, liat Hati. Kepala bingung.

Hati: Oh ya satu lagi, selama ini gua suka bareng elu, karena elu selalu usaha. Elu gag pernah ngeluh, elu gag pernah mikirin hasilnya. Mo sakes kek, mo gagal kek, elu tetep usaha.

Sekarang? ELUUUHHHHHHHH. GUEEEEEEHHHH. EN!

Kepala: Wew, Sule?

Sunrise. Surprise. Nothing I can’t hide.

Sunrise, sunrise.
Couldn’t tempt us if it tried
Cause the afternoon already come and gone

And I said
Hoooo, hoooo, hooooo
To you.

Surprise, surprise
Couldn’t find it in your eyes
But I’m sure it’s written all over my face

Surprise, surprise
Never something I could hide
When I see we made throught another day

And I said
Hoooo, hoooo, hooooo
To you.

And now the night
Will throw its cover down, ooo, on me again
Oh, and if I’m right
Its the only way bring me back

Hoooo, hoooo, hooooo
To you.

….

Denger ini lagi, pas iseng-iseng maen kerumahnya si neng ini.

Dengerin deh, ‘hooooo-hoooooo’-nya, bikin kita bisa jujur sama diri sendiri.

Norah yah, akuh? 🙂

Its ain’t over 2. Teman

“There are things known and things unknown, and in beetween there’s are firends” . Modifikasi tagline film The Doors (1991).

Mengakui dengan aklamasi, jika mulutnya itu selalu berada dititik terbata-bata pas dihadapkan kepada banyak  pertanyaan, terutama pertanyaan dari seseorang yang mempunyai banyak soal yang mengandung arti-arti yang tersirat

Nggak tahu yah, mungkin mereka – mereka ini adalah penganut teori psychoanalyst-nya Sigmund Freud. Jadinya mereka itu seakan sudah memegang kunci jawaban yang akan kita ucapkan, serentetan pertanyaan selalu bisa keluar dari mulut mereka seperti senapan mesin, tiap kali 1 jawaban kita lontarkan

Mereka mengaduk – mengaduk (atau menodong, tepatnya). Mengeluarkan dengan paksa semua bagian dari bagian diri kita yang paling dalam.

Misal, ketika mereka mengajukan pertanyaan; “Sedalam apa hubunganmu dengannya?”. Pertanyaannya yang tersiratnya adalah; “Did you actualy really put your dick in this woman?”.

Kita jawab: Anu-anu-anu, ini-ini-ini, itu-itu-itu.

Dan pertanyaan selanjutnya; “Apakah kalian sudah berkomitmen?” dan arti yang tersiratnya mungkin; “Okey, you did, sometimes or in every moment you both have?”.  Etc-etc-etc. Lalu semuanya mengalir kemana – mana sebegitu saja.

Nah, si ceuceu ini adalah salah satu dari mereka – mereka itu.

Bercerita dengannya, sempat tertegun untuk beberapa detik, dan merasakan sensasi ‘plong’ dibeberapa detik kemudian.

Doh, psikiater kuh. Jago emang :).

Ini tidak tepat, dan tidak mau disebut sebagai ‘pola’. Setidaknya setelah mengenal seseorang yang suka cuap -cuap kepada orang lain dengan pola seperti ini.

Mengumbar cerita, pertama biasa – biasa, lalu ke sesi aib-aib, lalu ke sesi penyembuhan, lalu ke sesi minta perlindungan. And then sneak peak throught the ass (with in the name of gods). Dan lari dengan meninggalkan banyak jejak (also in the name of gods). Tanpa mau bertanggung jawab sedikitpun (and still in the name of gods. Funny?). Pola baku untuk sebuah pembenaran.

Tapi dengan ceuceu yang ini (walapun umurnya tidak jauh, indeed ceuceu itu cuma kebiasaan saja). Ketakutan akan tertular pola diatas itu bisa terlepaskan. Kami bisa menyimpulkan apapun, tanpa ikatan apapun selain sebagai teman.

Well…

Ada teman yang enak untuk mengeluarkan semua isi hati sambil makan cuanki di taman kota, tapi tidak untuk dijadikan sekutu keintiman dan pelarian.

Ada teman yang enak buat berbagi sebungkus rokok dan berpetualang kemana saja seharian, tapi tidak untuk berbagi masalah pribadi di lantai atas tempat jemuran.

Dan ada teman yang cuma enak diajak have fun dan bercinta semalaman, tapi tidak untuk dibawa kedalam momen-momen kesulitan. Heuheuheu

Its ain’t over

It was tuesday noon, jalan bareng sama ceuceu yang satu ini ternyata menyenangkan. Duduk – duduk di kursi, di tengah lahan terbuka hijau-nya walikota Bandung, ternyata juga bisa menghadirkan ketenangan, mungkin karena banyak anak – anak yang berlarian, atau karena pepohonan, atau karena udah lama nggak keluar, jadinya segala sesuatu itu bisa menimbulkan efek berkesan?.

Anyway, kami mengobrol banyak tentang banyak hal, tentang hidup dengan segala pernak-perniknya terutama. Walaupun kalo dipikir-pikir, sebenernya, dialah yang nyablak sendirian. Indeed tangannya gak bisa berhenti memasukan cuanki pas bicara kesana kemari, tambah lagi – tambah lagi. Ah, womens!.

Ada kutipan – kutipannya yang masuk ke hati bukan cuma karena itu adalah sebuah penghiburan, ya setelah banyak disuapi oleh kata – kata bijak dari hashtag-nya twitter hampir sebulanan ini. Kata – kata yang ini, setidaknya, bukan ‘sesuatu’ yang bisa dijadikan alasan buat ngeles: Kalo kadang seseorang itu bisa lemah, dan menjadi ‘sesuatu ‘ yang lain, di satu sisi yang lain.

Setelah mendengarkannya, hal yang paling gua takutkan adalah bab terakhir dari Cather In The Rye-nya J.D Salinnger; “Aku berpikir, bahkan jika aku mati, dan mereka masukan aku kedalam kuburan, dan aku memiliki batu nisan atau apalah, disitu akan tertulis ‘Holden Caufield’, dan kemudian tahun kelahiranku dan tahun kematianku, dan kemudian di bawahnya tertulis ‘FUCK YOU’. Aku yakin itu”.

Nggak tahu ya, terlintas begitu saja.

Mungkin bener, semua amarah itu tidak akan pernah hilang sebelum sampai dititik dimana amarah itu harus hilang, seperti amarahnya Holden Caufield. Went God forgives, human don’t.

Dan yang harus kita lakukan hanyalah menunggu dan menunggu, sampai semuanya berada di puncak, lalu jatuh dengan sendirinya, hancur dimakan waktu, hilang bersama masa? Kok kedengerannya seperti Charil Anwar yak? Aku adalah binatang jalang yang terbuang?

(Mmmmmhhhhhh…)
(Merokok…)
(Melamun…)
(Ngetuk – ngeyuk meja)

Yasudahlah, teruskan nanti saja. Have nice day.