Membungkus Sejarah

Seseorang boleh mengatakan kepada saya bahwa sejarah hanyalah sejarah, direnungkan seperti apapun tetap hanyalah sejarah. Mungkin itu benar, tapi saya seorang perenung (kata lain dari pelamun), seorang yang percaya bahwa sejarah ditulis untuk dipelajari sebagai bekal kita berjalan ke depan, seorang yang percaya hukum sebab-akibat, seorang yang percaya pada idioma klasik; History repeat itself.

Seorang perenung percaya ketika melihat suatu momen (baik itu besar maupun kecil), momen – momen itu adalah sebagai puzzle yang saling berkaitan antara satu dan lainnya, momen saat ini akan mempunyai efek domino terhadap momen yang lain di lain waktu, cepat atau lambat. Momen ekonomi salah satunya.

Di tahun 2008, saat itu saya mulai mengenal dunia ini (financial market industries), waktu itu saya belum mengenal terlalu jauh, baru mencium bau-baunya tapi tidak pernah mencicipi. Dan pada tahun ini saya mulai terjun secara serius didalamnya. Saya mulai mencari mentor atau orang pintar dalam bidang ini secara intens. Tidak gampang, karena tenyata di dunia ini sangat banyak orang pintar dengan berbagai sub keahlian masing-masing, tapi akhirnya saya menemukannya, or at least saya merasa menemukannya.

Anehnya, saya menemukan kata sejarah lagi dari orang pintar ini. Tuh kan?

Saat itu saya disuruh melihat sejumlah data – data ekonomi kebelakang, berita-berita fundamental, krisis-krisis, menyatukan kembali kepingan – kepingan yang mungkin orang lain lupakan, sekaligus sebisa mungkin melihat efeknya di saat ini. Katanya, “Pelajari itu, semampu kamu, kenapa? bagaimana bisa? Believe me it will be worth, tehnikal urusan belakangan, ngerti dulu aja itu”.

Selain perenung kebetulan saya juga seorang penurut, saya mengikuti semua yang diperintahkannya, semampu yang saya bisa…

Kejatuhan Enron 2001, Krisis Perumahan AS 2008, dan Masa ini.

Ayam Makan Cacing.

Seharian penuh tadi udah coba figure out apa-apa yang terjadi. Kenapa bisa sampai kayak gini? Eh kepalanya malah seperti mau jatuh.

Terus malam-malam mamaknya nyamperin, ia tanya-tanya. Saya ceritakan, sekarang ini kerjaan lagi berantakan, masalah-masalah juga sekarang ini banyak, datangnya bisa dibilang secara rombongon gitulah.

And then, while she caressing my hair, she saids;

Ayam makan cacing, mati disamping rumah.
Ayam makan cacing mati, disamping rumah.
Ayam makan cacing, mati disamping rumah.
Ayam makan cacing mati, disamping rumah.

Whuaaaa udah lama banget gak digituin, terakhir kali itu waktu di SMK gara-gara rankingnya sama kayak nomor punggung Michael Jordan, 23.

Walaupun sampai sekarang belum tahu hubungan kerjaan dengan si ayam dan si cacing ini. Ya setidaknya jadi tahu, Gods always with 28 years old men, throught his mother hands and her awkward quotes.

Cacing. Ayam? Oh. My. Gosh…. T.T

Penari

Google Dance

Hari ini liat laman mukanya google, lucu tema-nya. Ceritanya beberapa perempuan penari dengan animasi yang halus membentuk hurup ‘Google‘. Pertamanya dari hurup ‘e’ selanjutnya bergerak satu – satu sampai ke ‘G’. Lembut sangat animasinya itu.

Mungkin creative director-nya google, ingin hari ini semua orang bahagia, behagia dalam bentuk apapun. Macam penari panggung yang diharuskan selalu terlihat bahagia, gak peduli kalo dia baru kehilangan mamaknya, atau bapaknya, atau siapanya, dia harus tetap menari dengan tersenyum.