Moby

Bersamaan dengan minimnya jumlah keluar dari kos-kosan akhir – akhir ini, sepertinya sesuatu yang bisa bikin ‘kandang’ nyaman adalah sesuatu yang first major.

Dan mungkin, jawaban sementara untuk itu saat ini ada di Moby.

Okay, instead dulu pernah teriak-teriak kalo musik yang bergenre trance, techno, remix atau apapun itu asalkan bunyi-bunyian yang keluar dari seperangkat komputer dan semacamnya adalah musik yang keluar dari esensi musikalitas itu sendiri, membelokkan substansi para pemainnya, nggak pure,  musik yang gak jelas, nggak banget, musik yang rasanya nggak usah.

Sekarang harus menyatakan bahwa Moby adalah satu pengecualian, setidaknya untuk saat inilah.

Indikatornya, pas dengerin Moby sepagian tadi bersamaan dengan bau daging domba dimana-mana. Selonjoran bisa lebih enak, badan rasanya ada yang ngisi kembali, ruang-ruang dikepala serasa jadi lebih lebar, jadinya ada ruang baru buat besok. Kamar kos sepertinya jadi suite president room (walaupun gak pernah tahu apa itu suite…? Cuma kenal di baliho-baliho ajah). Baca Gayus menyesal di pengadilan ajah bisa jadi sesuatu yang excited, ngebayangin kerjaan besok yang numpuk ajah jadi atraktif, Whuahahahahahaha…

Extreme way, lift me up, bring sally up, dan laen-laennya suatu saat nanti mungkin akan menemukan titik jenuh, lemes-lemes dan keluar dari mp3 players dengan sendirinya. Kalah pamor sama Jim Morrison dan Mick Jagger yang udah lebih dulu nongkrong di situ. Persis sama dengan apa yang terjadi sama Eminem. Tapi saat ini, inilah yang mau di putar berulang-ulang.

Moby…

Visit, and listen to him @ http://www.moby.com/discography

Kopi

Pagi – pagi Bandung mendung, kamar berantakan, seberantakan kepalanya sekarang ini. To many corner in my mind. What Im going to do, but I can’t do anything. Susis 🙁

Anyway pernah baca cerita;

Ada seorang dosen sepuh yang kedatangan para mantan mahasiswanya, semuanya pada stres berat. Trus, dosen itu bikin satu teko penuh kopi, di bawa ke depan mereka dengan berbagai macam cangkir yang istrinya punya, cangkir porselen, platik, kaca, dari yang termahal sampe yang termurah.

Singkat cerita, mereka semuanya minum kopi itu, dan yang tersisa di meja cuma cangkir-cangkir plastik dan kaca murahan.

Lalu dosen itu senyum-senyum dan bilang ke semuanya “See!…Kenape elo-elo pada stres? Karena lo-lo pada  liat cangkir yang mo elo pake. Elo pada milih cangkir yang bagus, cangkir yang mahal, cangkir yang antik, daripada kopinya yang mau elo minum. Lo-lo ini mau minum cangkir apa kopi sebenernya tong?

Mahasiswa:  (semuanya)  “hoh?” Melongo

“Gene, kopi itu hidup and cangkir itu adalah wadah hidup. Mobil elo (nunjuk idung si mahasiswa yang di tengah) yang diluar ntu, adalah wadah hidup, elu gak pake mobil ajah pasti bisa kesini. Semua baju, rumah, hape, yang elo-elo pada punya (nunjuk idung semuanya, satu-satu) itu adalah wadah hidup. Tapi di kepala lo semua, elo-elo harus punya wadah hidup yang istimewa dari pada idup elu sendiri. Itulah kenapa elo stres, lo pengen ini trus lo gak dapet, lo stress, lo pengen itu trus gak dapet juga, lo sakit. Elo-elo pada gag mau nikamatin idup elo sendiri coz sibuk mikiran wadahnya daripada idupnya”

Mahasiswa : Semenjak hari tu, tiap dateng ke rumah dosen, mereka rebutan pengen pake cangkir plastik cap cuankie.

*

Well kayaknya emang harus kayak gitu.  Mo espresso blend, mo luwak blend, mo “sachet-sachet-an” coffe blend, itu semuanya tasty selama kita gag ada urusan sama cangkirnya.

Jadi pengen nyobain esprreso lagi T.T

Bumi Manusia

Bumi Manusia, walaupun di tutup setelah sekitar satu jam. Jadi sebuah pelarian yang sempurna dari kemacetan Bandung sore hari. Menemukan karakter – karakter baru, cara pandang baru, althought itu hanya dari sebuah cerita dengan latar belakang pra kemerdekaan. But, its hit heads awkwardly.

Hitted (atau hitting gitu yak?) heads karena, adat-adat yang di tulis sama Pram di buku itu, lingkaran hukum sosial antar manusia di Indonesia, sekat – sekat kepatutan antar kelas dalam kehidupan (juga di Indonesia). Toh, sampai sekarang masih di pakai dan di aplikasikan dengan nyaman di kebanyakan masyarakat kita.

Lepas dari Nyai Ontosoroh yang menjadi wakil Pram untuk mengatakan kepada dunia, bagaimana cara pandang masyarakat Indonesia kepada seseorang, seseorang dengan kesalahan, dengan satu atau banyak titik hitam “If you a sinner you just a sinner, mistake is a mistake, don’t try to fall behind them”. Atau Minke, yang ingin mendobrak – dobrak semua itu. Ada semangat baru yang gak tahu dari tokoh yang mana datangnya.

Semangat, mungkin itu, iyah, itu, cuma semangat. Yang harusnya sekarang di pupuk terus. Nge-maximize apapun yang mungkin bisa di jadikan senjata untuk -mencoba- menang. Sebaik – baiknya.

Dan ini kutipan dari backcover-nya, yang -mengkin- bisa bikin kita lebih berani lagi, berani mimpi, berani melawan keadaan, berani tampil walaupun kita nggak pernah tahu di terima atau enggak, bagus atau enggak. Berani menjadi orang – orang seperti di Bumi Manusia.

Kita kalah, Ma” Bisikku.

Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-sebaiknya. Sehormat – hormatnya

Bumi manusia, Pramoedya Ananta Toer.

Haus

Kadang, ketika semua masalah serasa menghimpit kepala, dan semua masalah itu rasa-rasanya segede gaban semua. Selain kita membutuhkan satu keajaiban di depan mata, ternyata juga kita butuh satu akua gelas di atas meja.

T.T

PS: I dont wanna stop cathing that moons anyway, nggak sekarang, setelah-setelah semuanya. So belajarlah acep, besok-besok harus bawa air di tas sebanyak-banyaknya. Semangats. 😀

Dua Tujuh

Kemaren-kemaren buka tweeter, trus baca satu tweets yang bunyinya;

@ OMGFactCelebs :Jimi Hendrix, Janis Joplin, Kurt Cobain and Jim Morrison were all 27 years old when they died.

Jadi inget pas umuran segitu, atau setidaknya, sebelum dan sedang menginjak angka itu. Banyak kejadian-kejadian yang bisa bikin hidupnya game over  juga (pada satu titik, berniat meng-game over-i diri sendiri).

Kalo mau di list;

1. Terlempar dari kebahagian, dan gak tahu harus ngapain.

2. Akhirnya ngerasa kalo semua orang di sekitaran (termasuk yang baik dan yang jahatnya) itu nggak worth it lagi, mereka semua udah kayak artefak ajah.

3. Poin 1 masih berefek sistemik. Kehilangan akal sehat. Padahal yah, jauh-jauh hari sebelum itu, udah banyak orang yang bilang kalo otaknya enggak bisa disebut normal lagi. How silly.

4. Sekalinya bisa bangkit, dikerjain, nggak ada angin-nggak ada ujan di tusuk orang, pake tiga orang lagi (TIGAAAAA COBA?). Dirawat dapet 2 minggu, 3 bulan therapy pernapasan karena pisaunya hampir nyerempet jantung dan jahitannya bikin susah nafas. Dan sampe sekarang masih menunggu permintaan maaf dari mereka, setidaknya lewat sms lah. *life is beautiful mamen isn’t it? .

5. Etc-tec-etc, beberapa lagi kejadian yang menyesakkan, tapi efeknya masih segede upil.

Dan sekarang nggak kerasa udah 10 bulan lewatin usia itu. Phewwww…Thanks Gods I have passed thats age.

Cheers…