Ladan Dan Laleh Bijani

Ladan & Laleh Bijani: “Ciumlah Kami, Ciumlah Wajah Kami..!”

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan kembar Siam Ladan dan Laleh Bijani (29) kepada sahabatnya Bahar Niko (24). “Dengan gembira mereka berujar, “ Ciumlah kami, ciumlah wajah kami…” Kemudian pintu menuju ruang operasi terbuka, keduanya mengangkat tangan penuh kebanggaan, dan kami saling mengucapkan selamat tinggal. “

Adegan mengharukan itu terjadi pada Minggu (6/7) pagi, sesaat sebelum operasi pemisahan kembar siam dempet kepala (craniopagus) –yang disebut “Operasi Harapan”– dilakukan di Rumah Sakit Raffles, Singapura.
Dikisahkan Niko, pada malam menjelang operasi, Sabtu (5/7), Ladan dan Laleh tidak bisa tidur. Keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama perawat, dan tujuh orang teman-teman dekatnya yang khusus datang dari Iran, Jumat pagi (4/7).
“Teman-temannya pun tidak bisa tidur. Waktu aku mencoba tidur dan menutup mata, sepertinya mereka berdiri tepat di depanku.”

Ketika Ladan dan Laleh mulai menjalani operasi hari Minggu pagi, tak satu pun teman-temannya meninggalkan rumah sakit. “Waktu aku meninggalkan rumah sakit, aku malah nervous. Aku hanya ingin berada di dekat Ladan dan Laleh, meski aku tidak bisa melihat keduanya,” lanjut nona Niko.
Pada malam harinya tulang tengkorak si kembar baru mulai dibuka. Operasi kemudian dilanjutkan hari Senin dengan pemisahan selaput luar otak dan pembuluh darah yang menempel. Namun, ketika proses pemisahan milimeter demi millimeter jaringan otak itu mencapai tahap lanjut, pada Selasa (8/7), Ladan tidak mampu bertahan, ia meninggal pada pukul 14.30.
Pimpinan rumah sakit Raffles, Dr. Loo Choon Yong mengatakan, ketika timbul komplikasi setelah jaringan otak Ladan dan Laleh dipisahkan, para dokter bedah sebenarnya punya dua pilihan: Pertama, menstabilkan kondisi si kembar dan memindahkan mereka ke ruang ICU. Kedua, tetap melanjutkan operasi dengan risiko paling berat.

“Tim dokter kemudian menimbang kembali pada apa yang paling diinginkan Ladan dan Laleh. Keduanya berharap dipisahkan satu sama lain, bagaimana pun keadaannya.”
Dalam operasi yang berlangsung selama 50 jam terus menerus itu, disebutkan Dr.Yong, para dokter dalam keadaan, “Penuh harapan dan sangat berhati-hati”. Sayangnya, setelah jaringan otak si kembar dipisahkan, terjadi perdarahan sangat hebat, yang berujung pada kematian Ladan.
“Laleh dalam kondisi kritis tapi masih bisa bertahan,” ujar Dr.Yong. “Jadi, operasi pada jaringan otaknya tetap dilanjutkan. Dia juga terus menerus menerima transfusi darah. Namun, , seperti halnya Ladan, tekanan darahnya tidak stabil dan sirkulasi darahnya terganggu. Seluruh tim dokter sudah melakukan semua usaha untuk menyelamatkannya, namun Laleh meninggal satu setengah jam kemudian, pada 17.00.”
Kisah keberanian Ladan dan Laleh menempuh operasi berbahaya, dengan risiko menewaskan salah satu atau keduanya, menimbulkan kesan yang mendalam di seluruh dunia.
Dokter berkali-kali mengungkapkan kepada si kembar kemungkinan kegagalan dalam operasi tersebut, namun Ladan dan Laleh, yang secara mental sudah dipersiapkan melalui konseling psikologi selama 2 bulan, tetap bertekad menerima risiko tersebut dan menghadapi kemungkinan paling buruk. Sebab, sejak lama mereka mendambakan kehidupan terpisah .

Operasi yang melibatkan 28 dokter dan ahli bedah dari Singapura, Amerika, Prancis, Jepang, Swiss dan Nepal tersebut dipimpin oleh Dr. Keith Goh. Ahli bedah syaraf yang sukses memimpin operasi bayi kembar dempet kepala asal Nepal, Ganga dan Jamuna. Operasi dua tahun lalu itu, dilakukan secara marathon dan menghabiskan waktu kurang lebih 97 jam.
Ladan dan Laleh datang ke Singapura 20 November 2002, setelah bertahun-tahun mencari ahli bedah yang mau memisahkan mereka. Keduanya sangat tertarik pada keberhasilan Dr. Keith Goh menangani bayi kembar berusia 10 bulan tersebut. Sayangnya, salah satu
dari bayi itu kemudian meninggal.

“Kami sudah bersatu hampir 30 tahun. Itu cukup sudah, ” kata Ladan Bijani. “Saat kami membuka mata nanti, dan melihat cahaya, satu-satunya yang kami inginkan adalah terpisah satu sama lain,” lanjutnya.

Seperti halnya Ladan, Laleh Bijani, yang menghabiskan setiap momen dalam hidupnya bersama saudara kembarnya itu, punya keinginan sederhana. “Kami hanya ingin melihat wajah kami tanpa cermin,“ katanya tertawa, yang disambut anggukan kepala Ladan. “Ya, kami ingin berhadapan dan bisa memandang satu sama lain, face to face.”
Selama bertahun-tahun Ladan dan Laleh –yang punya 9 saudara kandung– berpisah dengan kedua orangtuanya. Sejak usia 4 tahun, mereka dirawat sebuah lembaga sosial milik pemerintah dan jarang berhubungan dengan keluarganya yang tinggal di Shiraz, 650 km sebelah selatan Teheran. Tidak jelas benar mengapa si kembar ini terpisah dari keluarganya.
Yang pasti, sepanjang hidupnya mereka masing-masing banyak berkorban dan mencoba melakukan kompromi, meski memiliki gaya hidup dan kepribadian berbeda. Secara blak-blakan Ladan bilang ingin meneruskan studinya di bidang hukum dan kembali ke kota kelahirannya. Sementara, Laleh ingin mewujudkan mimpinya menjadi wartawan di Teheran.

Namun, mimpi Laleh untuk menjadi wartawan, harus berakhir dengan kuliah hukum di Universitas Teheran untuk memenuhi ambisi Ladan menjadi ahli hukum. Keduanya lulus meski harus memakan waktu 6,5 tahun, sementara mahasiswa lain umumnya lulus dalam empat tahun.
Penuh percaya diri, pintar, penuh semangat dan selalu gembira, kedua wanita ini ingin secepatnya terpisah, bukan karena frustasi atau tidak nyaman dengan kehidupan keseharian mereka yang selalu berasma-sama, tetapi lebih karena perbedaan dalam minat dan ambisi.
“Kami sangat mencintai satu sama lain, tetapi bila terpisah aku ingin meneruskan karir sebagi ahli hukum, sementara Laleh ingin menjadi wartawan seperti kalian,“ kata Ladan yang terlihat lebih mendominasi saudaranya, dalam jumpa pers, Rabu (2/7) “Kami ini, dua invidu, yang masing-masing punya impian berbeda.”
Tidak seperti Ladan yang suka memasak, dan belajar sendiri memprogram komputer, Laleh lebih suka binatang, bermain puzzles dan computer game. Ladan, juga terlihat lebih banyak bicara ketimbang Laleh yang pendiam dan pemalu.
Warna kesukaan Ladan adalah biru dan abu-abu, sementara Laleh lebih suka warna merah dan putih.

Ketika ditanya apa yang ingin mereka katakan satu sama lain sebelum menjalani operasi? Dengan tersenyum Ladan berujar, “ Ok Laleh, selama kita bersatu, kita sudah menjalani kehidupan yang indah, thank you very much..”
Setelah kematian Ladan dan Laleh, yang paling terpukul adalah Zohre Salehinia (32) , seorang ibu rumahtangga, sahabat si kembar, yang menjelang operasi selalu mendukung Ladan dan Laleh secara emosional, maupun finansial. Suaminya, Habib Hosseini, bahkan siap mendonorkan darahnya jika diperlukan.
“Saat operasi berakhir, aku ingin secepatnya menemui mereka, dan bilang pada si kembar, “Bangun Ladan.., bangun Lelah…” Sayang, keinginan Salehinia untuk membangunkan si kembar sebagai dua invidu yang terpisah, tak dapat terwujud. (zrp/CNN/The Straits Times)

thanks to my friends for this article

Lucky star

-This is my life,It’s not what it was before,All these feelings I’ve shared,And these are my dreams,That I’d never lived before,Somebody shake me ’cause I,I must be sleeping…..-
( staind.so far away )

Suaranya seperti gemericik air dan aku adalah seorang yang kehausan,suaranya adalah sinar terang dan aku adalah seorang dalam kegelapan.Suaranya seperti reduktor yang dapat mereduksi semua energi negatif,menggiringnya ketitik jenuh dan mengendapkannya,di sisi lain suaranya seperti katalis yang akan menghantarkanmu ke titik didih yang skalanya telah di konversi dari celcius ke fahreinheit.

Suaranya adalah medium penyadaran,penyadaran dari koma yang lama seperti sebuah episode yang telah berakhir tetapi tidak menemukan endingnya,yang pemainnya terus bermain tanpa scripts dan arahan sutradara dari sketsa yang tidak tentu arahnya.Suara itu telah mengarahkan pemain dan membuat scripts terakhir untuk mengakhiri sketsa.

Suara itu seperti zat cair yang mampu mengisi tiap bejana yang saling di hubungkan tanpa melihat bentuk dari masing – masing bejana tersebut.PARADOKS HIDROSTATIKA.

Kahlil Gibran menyebut Shelma El-Karamy seperti sebuah buku yang didalamnya terdapat pujian – pujian yang tidak akan pernah selesai dibaca,seperti bunga mawar yang di tumbuhi duri di sekelilingnya.Aku menyebut pemilik suara itu dengan lucky star.Bintang keberuntungan,lebih pendek,sangat british dan elegan…

Jika Ludwig Van Beethoven menciptakan karya besarnya dalam keadaan tuli.Maka aku telah merasakan sebuah karya besar sebuah masterpiece dengan hanya mendengarnya,aku telah melihat keindahan yang belum tampak.

Mungkin suara itu ada yang memiliki, tapi aku akan berkata kepada sang pemilik itu ” kau mungkin telah memiliki hatinya bahkan kau telah memiliki semuanya yang terbaik darinya,tapi kebahagiaanmu tidak ada setengahnya pun dari kebahagian ku.Karena aku tidak perlu memiliki yang terbaik dari segalanya,aku hanya membuat yang datang padaku menjadi yang terbaik,seperti suara itu.Dan kau tidak akan mampu merasakannya “.The end

dedicated to : My lucky star, thanks alot for wakes me up kini aku bisa meneruskan lyrics lagu itu :
“…. These are my words,That I’ve never said before,I think I’m doing okay,And this is the smile,That I’ve never shown before “